Tirani Pasar Kerja | #Mayday

Sehari sebelum hari buruh atau yang sering disebut sebagai #MayDay, Papa saya menelpon. Beliau berpesan : ‘Baiknya besok dirumah saja, izin dulu nggak usah kuliah. Takut nanti di ajak demo-demo. Firasat papa nggak enak.’ Saya pun nurut saja, karena nyangkutnya sama firasat orang tua. Daripada ada apa-apa yasudah dirumah saja ( hehehe. Padahal seneng juga bisa bolos #eh )

Karena bingung mau ngapain dirumah aja bete dan lain-lain, akhirnya seperti biasa ; nyari buku yang enak dibaca saja kalau begitu. Saya baru ingat kalau saya punya buku yang berkaitan dengan hari buruh ini. Judulnya “Tirani Pasar Kerja (terbitan Resist Books)—ditulis oleh Bartono PH seorang praktisi yang sudah kenyang makan asam-garam pengalaman dalam dunia kerja.

l

Tirani Pasar Kerja hasil nyolong di Klubbuku_BDG #eh

Buku ini banyak menjelaskan tentang  seluk beluk dunia kerja. Tapi konsentrasinya lebih kepada pemaparan tentang kapitalisme perusahaan terhadap tenaga kerja magang. Yang mana tenaga magang biasanya digaji dengan upah dibawah standard dan sering menerima perlakuan diskriminatif. Dunia kerja dalam buku ini dianalogikan sebagai dunia rimba yang kejam dan sewenang-wenang. Yang penuh dengan penindasan dan hipokrisi perusahaan. Ini membuat dunia kerja yang tadinya dimpi-impikan sebagai surganya dunia, malah menjelma sebagai meja perjudiaan yang penuh dengan ketidakpastian.

Dibuku ini juga dijelaskan bagaiamana kebanyakan perusahaan-perusahaan dinegara kita hanya mementingkan profit belaka, dan mengabaikan kepentingan SDMnya. Padahal, dimata kuliah Manajemen SDM  juga telah dijelaskan bahwa perencanaan SDM adalah yang paling vital dalam perusahaan. Tetapi teori hanya sekedar teori, pada kenyataan tetap saja prakteknya belum utuh.

Ada beberapa point penting dalam buku ini yang patut kita perhatikan :

  • Lemahnya Perlindungan Hukum

Didalam UU ketenaga kerjaan kita, tenaga kerja yang mendapatkan perlindungan payung hukum  adalah tenaga kerja yang telah melakukkan perjanjian dengan perusahaan dan mempunyai posisi dalam hirarki  perusahaan. Berarti yang bisa mendapatkannya hanyalah mereka pegawai tetap. Ini mengesankan bahwa perusahaan kerapkali melakukan diskriminasi dan dehumanisasi.

  • Meningkatnya job turn-over pada masyarakat industri

Pada masnyarakat industri, lintas-kerja antar tenaga kerja sangat tinggi. Kepuasan akan gaji dan perlakuan perusahaan ikut mendorong lintas kerja dan lintas perusahaan. Tapi harus dibedakan juga antara job-turn-over lintas perusahaan di negara maju dengan negara berkembang seperti kita, yang tenga kerjanya kebanyakan belum terlatih. Berbeda dengan negara-negara maju yang dorongannya adalah karena profesionalitas kerja, di negara kita dorongan itu timbul karena sistem kontrak kerja. Sistem itulah yang membuat job-turn-over tinggi. Jadi bukan karena profesionalitas. Maka dari itu, kualitas pendidikan dan pemerataannya harus digalakkan lagi.

  • Perusahaan selalu menghindar dari dialog

Seringkali perusahaan-perusahaan di negara kita tak menyukai dialog terbuka dengan karyawannya untuk mencari solusi-solusi soal masalah kekaryawanan. Kalau pun ada, itu juga kebanyakan bukan aspirasi langsung dari karyawan-karyawan. Tetapi  justru itu adalah kemauan-kemauan kelompok oportunis yang licik. Padahal jika dialog antara perusahaan dengan karyawan bisa tecipta dengan baik, mungkin demo buruh yang seringkali memunculkan kericuhan itu tak perlu ada lagi.

Intinya perusahaan-perusahaan di Indonesia itu harus bisa mengcover semua kebutuhan-kebutuhan karyawannya, seperti teori kebutuhan yang pernah dicetuskan oleh Maslow.

Jika semua sudah terpenuhi, Insya Allah buruh akan makmur :D

Buruh jaya, Indonesia Berjaya

Mimpi ikutan kelas FIlsafat | #MImpiAbsurd

Mimpi itu hanyalah bunga tidur 

Mimpi katanya hanyalah bunga tidur, tapi biasanya yang namanya bunga itu selalu identik dengan hal-hal yang indah dan wangi. Tetapi semalem mimpi saya kok kesannya mikir banget ya ?

Coba bayangin : saya mimpi ikut kelas filsafat yang diajar langsung oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto Dosen Filsafat ITB. Hadeh disitu rasanya rasanya udah kayak kuliah beneran. Mungkin itu karena malemnya saya baca novel dunia sophie kali ya ? Makanya mimpinya absurd gitu. Tapi semoga deh jadi kenyataan bisa ketemu Prof. Dr. Bambang. Amin

Have nice day. Have sweet dream 

Bertanya lagi | #Puisi

Bertanya lagi

Setiap tetesan air hujan mengadung pesan

Baik yang tersampaikan,

Maupun yang belum.

Masih ada yang tertinggal

Perihal rasa yang sudah lama

Yang lama mengakar

Yang layu sebelum mekar

Yang terlanjur terbakar

Apakah dulu kau menyimpan hal yang sama ?

Jika ya,

Aku bahagia, lalu aku menjelma senja yang merah saga

Jika tidak,

Tak mengapa, lalu aku menjelma batu diam yang sunyi

Apakah dulu kau menyimpan hal yang sama ?

Aku hanya bertanya

Tak perlu kau balas dengan kesan

Tak perlu merasa tak nyaman

Karena bagiku, bahagiamu adalah doa

Hanya itu.

Terimakasih.

***

Puisi ini bisa dibilang puisi pertama saya yang serius, baik dari segi diksinya maupun dari temanya. Iya, temanya itu mewakili letupan-letupan hati saya akhir-akhir ini.

Kecanduan Membaca

“Satu-satunya kecanduan yang tidak merugikan ialah kecanduan membaca, dan satu-satunya kutu yang tidak membahayakan ialah kutu buku.” —Fuad Hassan

 

Tadinya membaca bukanlah hobi saya. Saya tidak terlalu gemar membaca, paling bacanya juga yang ringan-ringan seperti komik, majalah gadis, dan novel. Tetapi setelah dipertemukan dengan Kak Nia dan @Klubbuku, minat baca saya meningkat drastis. Setelah bertemu dengan mereka  segmentasi bacaan saya juga semakin luas. Pokoknya jadi addict banget dengan hobi membaca. Rasanya kalau sehari tak membaca itu hati ini rasanya gelisah-gundah-gulana-gersang-halah.

Membaca sekarang seakan menjadi nafas dalam hidup saya, dan arena membaca pula, saya jadi semakin sadar bahwa saya ini masih terlalu bodoh. Saya sadar bahwa lautan ilmu itu luas, jadi jangan sampai ada kata final untuk terus belajar dan jangan pernah merasa bosan untuk membaca.

Karena membaca juga saya sekarang cenderung agak boros. Iya, kantong saya selalu tersiksa kalau sudah ada bazaar buku. Kalau dulu hobinya beli baju, sekarang hobinya beli buku. Tapi tenang, saya tetep suka pake baju kok :D hehehe

Berangkat dari sini, akhirnya minat baca saya mendorong saya agar belajar menulis. Karena pada dasarnya menulis dan membaca itu seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Inilah salah satu alasan saya membuat blog—guna membiasakan saya untuk terus menulis.

Dan saya berharap minat baca ini juga bisa menular pada orang–orang disekililing saya, walaupun mungkin usahanya harus lebih keras. Pernah dulu saya berdebat dengan seorang teman yang mengeluh tidak bisa membeli buku, padahal sehari dia bisa menghabiskan dua bungkus rokok yang jika ditotal harganya sekitar 20rb. So, sehari bisa saving sampai 20rb misal tidak merokok untuk sehari saja. Dan misalkan untuk seminggu tidak merokok jadi total yang bisa dikumpulkan adalah 140rb. Wah!! Itu sudah bisa buat jajan buku dengan puas di Gramedia.

Sangat disayangkan sekali memang jika uang kita justru terbuang sia-sia dirokok dan untungnya saya bukan perokok :D . Mending uangnya buat beli buku. Agaknya memang benar kata Prof Fuad Hassan bahwa :

“Satu-satunya kecanduan yang tidak merugikan ialah kecanduan membaca, dan satu-satunya kutu yang tidak membahayakan ialah kutu buku.”

Menanti 9 Summers 10 Autumns | #25April

9 summers  10 autumns. Sebuah novel apik karya Iwan Setywan.

Novel ini termasuk novel favorit saya, dan bisa dibilang novel favorit saya yang nomor satu ( salah satu alasannya karena saya sudah berulang kali bertemu dengan penulisnya langsung :D ). Saya menyukai novel ini bukan hanya karena kisah inspirasi yang disajikan, tetapi dari segi sastra—novel ini juga berbobot, ini bisa dilihat dari cara bercerita sang penulis yang melankolis. Kita seakan-akan diajak memasuki kedalaman jiwa sang tokoh dalam novel tersebut. Selain itu, didalam novel ini juga diselipkan beberapa kutipan dari Doestoevky—seorang sastrawan besar yang berasal dari Rusia. Sekelas dengan Leo Tolstoy.

Novel ini menceritakan tentang kisah sang Penulis. Tentang anak sopir angkot ( Iwan Setywan) yang berusaha menembus batas ketakutannya dan berusaha membebaskan hidup keluarghanya dari kungkungan kemiskinan. Dan akhirnya, berkat pendidikan yang layak Iwan akhirnya bisa keluar dari kungkungan itu. Ia bebas. Ia telah berhasil menempati jabatan sebagai Director, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York Amerika. Sebuah prestasi yang luar biasa membanggakan.

Dan rencananya film yang diadaptasi dari novel ini akan tayang pada tanggal 25 April nanti. Saya harap film ini bisa mengaduk-ngaduk emosi para penonton seperti novelnya, karena dari beberapa pengalaman saya, ada film yang diadaptasi dari novel tapi hasilnya mengecewakan. Tak ada emosi yang kuat seperti novel aslinya.

Tetapi setelah mengintip sedikit cuplikan film 9 summers 10 autumns dari trailernya, saya yakin, hasilnya pasti memuaskan. Cekidot…..

April dan Sastra

“April is the cruelest month, breeding
lilacs out of the dead land, mixing
memory and desire, stirring
dull roots with spring rain.”
― T.S. EliotThe Waste Land

Mungkin bagi seorang T.S Elliot bulan April adalah bulan yang kejam, jahat, bengis dan suram. Tetapi bagi saya bulan April adalah bulan pembuka jalan. Dibulan april ini saya dipertemukan dengan  beberapa kegiatan baru dan hobi baru, dan salah satu hobi baru saya adalah membaca buku-buku bernilai sastra seperti novel roman karya Pramoedya Ananta Toer dan Buku puisi Sapardi Djoko Damono

Gara-gara hobi baru saya yang suka baca puisi ataupun kata-kata yang mengandung nilai puitik ini, teman-teman saya jadi sering protes : “Mad, plis deh kamu jangan alay gitu.”. Agaknya mereka harus bisa membedakan mana alay, mana puitis. Tapi tak jadi masalah, saya tetap bahagia. Saya telah menemukan sebuah hobi yang seolah-olah memberikan nuansa baru pada jiwa saya : sastra

Dan karena honi ini juga, saya sekarang jadi ketagihan potongan film AADC ini

Saya ingin membaca lebih banyak lagi karya-karya sastra. Konon, dengan membaca sastra itu akan berpengaruh pada perilaku kita. Karena sastra adalah media kontemplasi dan media  intropeksi diri

Ah, sastra memang indah.

April dan Sastra

Semi memang tak tumbuh ditempatku

Tetapi kata bermekaran dimana-mana

Disana-disini-dimana-mana

“Ah bulan april memang semarak” katamu dengan wajah merona

Ku belai rambutmu

Ku cium keningmu

Ah, sastra, kucinta kau sekarang