Mercy Note™

each day's a gift and not a given right


4 Comments

Baik buruknya sebuah acara dan buku motivasi

“Kata-kata memang ampuh. Tapi juga penuh racun reduksi. Apalagi jika dipakai untuk mencecoki kepala orang, menjadi petuah moral yang gampang disebar.”

—Phutut EA ( dalam buku Makelar Politik hal. 100 )

 

Dalam sebuah rapat yang saya hadiri, ada seorang teman yang begitu menggebu-gebu ketika menyampaikan pendapatnya. Saya heran. Padahal masalah yang dibicarakan dalam rapat itu bukanlah masalah sederhana yang dengan mudahnya bisa diselesaikan dengan wejangan-wejangan dari om Mario Teguh. Saya heran. Orang ini seakan-akan tak bisa berpikir dengan logis ketika menguraikan masalah yang didiskusikan ini. Dia begitu gegabah ketika memberikan solusi. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Beberapa hari lagi akan digelar sebuah acara seminar tentang kepemimpinan dalam rangka menyambut pemilu. Namun, ada beberapa kekurangan dalam hal persiapan. Pertama, adalah pembicara. Pembicara akan di hadirkan dalam acara seminar ini sesungguhnya bukanlah orang yang pas. Untuk sekelas seminar nasional dia masih belum memenuhi kriteria. Dan salah satu diantara mereka adalah dosen kami sendiri. Tentu saja anda bisa baynagkan, bagaimana rasanya, tentu saja takkan jauh berbeda dengan kuliah di kelas. Kedua, harga tiket seminar yang kurang bersahabt. Harga tiket seminar sebesar 100 ribu untuk kalangan mahasiswa di Subang—yang notabene adalah daerah pinggiran—bukan harga yang murah. Mereka akan merasa terbebani dengan harga itu. Ketiga, tempat acara seminar. Tempatnya bukan tempat yang mudah dijangkau. Jauh dari kampus. Bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi, tentu ini akan merepotkan mereka.

            Dari beberapa alasan tersebut, saya memberikan usul yang menurut saya lebih logis dan lebih aman. Sebaiknya waktunya diundur saja. Lalu kita rencanakan lagi dengan baik. Karena tahun lalu saya pernah menjadi ketua pelaksana seminar seperti itu. Tetapi usulan saya ditolak. Tak masalah, toh ini bukan tanggung jawab saya. Hanya saja yang membuat saya agak risih adalah : orang-orang yang menggampangkan masalah. Orang-orang yang memberi solusi dengan petuah-petuah bijak yang belum tentu ampuh untuk menyelesaikan masalah serumit ini.

            Saya bukannya pesimis ketika menanggapi teman saya yang seperti itu. Saya hanya mengajak mereka berpikir dengan logis dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Sayangnya, teman saya ini sudah terbuai dengan acara-acara motivasi. Saya sedih. Rupanya masih ada saja orang yang menjadi korbannya.

            Sebenarnya, dalam hal ini saya tak pernah menyalahkan mereka yang gemar membaca buku-buku motivasi dan mengikuti acara-acara motivasi ( yang terkadang harga tiketnya sering membuat dahi saya berkerut). Saya juga dulu adalah orang yang gemar membaca buku-buku semacam itu dan sering juga ikut-ikut seminar motivasi. Tetapi itu dulu, ketika memang saya membutuhkannya. Saat itu memang saya sedang galau berat dan butuh asupan motivasi. Dan ketika semangat saya sudah pulih kembali, saya berhenti menyerap petuah-petuah motivasi itu. Akhirnya, sekarang saya malah gemar membaca buku-buku sastra. Karena menurut saya itu lebih mendidik dan memperhalus perasaan. Jadi, sebaiknya bacalah buku motivasi itu dengan takaran yang wajar-wajar saja. Dan jangan terlalu mudah termakan petuah-petuah bijak yang melenakan. Buku motivasi memang punya efek positif, tetapi disatu sisi, buku motivasi juga mempunyai efek negatif. Oleh karena itu, bacalah buku motivasi diwaktu yang tepat, bukan disaat rapat atau diskusi.


Leave a comment

Sampah-Sampah Kota

Kini kota kami tampak muram. Diantara pohon-pohon yang membuat kota kami jadi teduh, ada wajah-wajah narsis orang yang tak kami kenal. Wajah-wajah itu tercetak pada poster-poster dan baliho-baliho berukuran jumbo. Wajah-wajah itu tampak pongah dengan senyumnya. Kepongahan itu makin kentara ketika ada slogan-slogan basi yang ikut mengekor. Bersih. Jujur. Adil. Tegas. Peduli. Ah, mata kami perih. Kota kami jadi sendu dan sedih. Tahun ini kota kami penuh dengan sampah.

2014


Leave a comment

Catatan Kecil Perihal UU Desa

Bersama Budiman Sudjatmiko dll ( dan selalu, foto saya tak fotogenic )

 

Sabtu, 11 Januari 2014

Hari sabtu adalah hari suci untuk para pemalas sedunia  ̶  termasuk saya. Tetapi ada yang lain di hari sabtu kemarin, saya tak menghabiskan waktu luang saya untuk bermalas-malasan di kasur saja, saya bosan. Akhirnya saya dipaksa untuk mencari kegiatan lain, dan untunglah seorang kawan saya mengajak saya ke sebuah acara menarik di aula pemda Kab. Subang.

                “Ini acara sosialisasi Undang-Undang desa bro. Yang pembicaranya Budiman Sudjatmiko.” Kata teman saya itu. Dan jleeeeeb…. saya girang bukan kepalang. Nama Budiman Sudjatmiko adalah nama yang akhir-akhir ini bergumul dalam benak saya. Dia adalah Anggota DPR RI yang baru saja menelurkan sebuah novel berjudul “Anak-Anak Revolusi”. Novel ini sedang ramai di bicarakan orang di social media, inilah yang membuat saya penasaran. Dan tentu saja saya dengan senang hati menerima ajakan teman saya itu. Walaupun acara ini sarat akan nuansa politik, menjelang pemilu 2014, saya mau saja, toh saya hanya ingin tahu Budiman Sudjatmiko saja. Si Penulis novel itu. Terlepas dari sosoknya sebagai calon legislatif 2014.

                Acara ini dihadiri oleh seluruh kepala desa & kepala kecamatan Subang. Rupanya, bapak-bapak dan ibu-ibu penjabat ini kalau dikumpulkan dalam satu tempat juga sama gaduhnya dengan kami para mahasiswa/i.

                Acara di mulai. Bupati memberi sambutan. Bapak ini memberi sambutan. Bapak itu memberi sambutan. Dan saya bosan, inilah bagian basa-basi yang sering sering membuat saya bosan. Saya hanya menunggu pak Budiman menjelaskan, tak pentin siapa yang memberi sambutan. Saya juga ingin tahu apa sih sebenarnya konten dari Undang-Undang desa itu.

                Dan tibalah waktunya pak Budiman Sudjatmiko mempresentasikan apa itu Undang-Undang Desa. Pak Budiman pertama-tama menunjukkan beberapa slide foto-foto desa di negara Cina yang berhasil mengelola desanya menjadi desa yang gemerlap. Kami semua tercengang melihat foto-foto itu. Kami membayangkan desa-desa di Subang bisa seindah itu. Desa dengan rumah-rumah yang tertata rapi. Desa dengan kantor kelurahan yang lebih pantas disebut sebagai hotel berbintang 5. Desa dengan infrastruktur yang lengkap dan megah. Ah, indah sekali.

                “Ini bukan mimpi!” kata pak Budiman, “suatu saat, ketika Undang-Undang desa ini terlaksana, desa-desa di Subang juga bisa seperti ini, bapak-bapak ibu-ibu semuanya. Dengan Undang-Undang ini, nantinya bapak-ibu semuanya bisa mendapatkan fasilitas dana untuk mengelola desa.”

                Dari penjelasan pak Budiman ini saya akhirnya bisa menangkap beberapa isi penting UU Desa ini. Jadi ini semacam otonomi desa, desentralisasi sampai kedesa-desa. Wah, bagus juga ya UU ini. Pasti kalau UU berjalan dengan baik, seluruh desa di Indonesia bisa menjadi desa-desa yang indah seperti di Cina itu. Keren.

                Tiba-tiba teman saya, seorang peneliti sosial dari LIPI Subang, nyeletuk dari belakang. “Hmmm.. UU ini emang sih bagus kalau di lihat dari tujuannya. Tapi aku agak pesimistik,” katanya dengan wajah yang agak lesu, “karena kan konsep UU di adopsi dari Cina. Kita semua tahu Cina itu negara komunis, beda sama Indonesia yang feodal. Kalau di Cina, koruptor dan para pembangkang itu langsung ditembak mati disana mah. Kalau di Indonesia?

                “Kalau indonesia bisa sukses menjalankan UU Desa ini, Indonesia bisa maju. Tapi sebaliknya, kalau UU Desa ini gagal diterapkan. Negara kita bisa bangkrut bro!”

Saya langsung terdiam, mencoba merenungi pendapat dari teman saya itu. Hmmm kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga omongan kawan saya ini. Cina kan memang negara komunis, sedangkan kita masih jadi negara yang feodal. Dimana slogan asal bapak senang itu masih kental. Lalu apakah untuk menerapkan UU ini kita juga harus menerapkan hukuman mati untuk para koruptor?

 Ngeri juga soalnya kalau disuruh membayangkan korupsi besar-besaran terjadi sampai ke desa-desa. Ah, semoga saja itu tidak terjadi. Saya yakin UU Desa ini bukan UU mentahan yang dibuat tanpa persiapan matang. Saya yakin pak Budiman dkk sudah  memperhitungkan pahit manisnya.

Saya yakin, Indonesia bisa menjadi bagsa dengan mental unggulan. Dan pada akhirnya kita tidak perlu menjadi negara komunis untuk menjadi bangsa bermental unggul. Saya yakin bangsa Indonesia bisa!


Leave a comment

Hujan. Deras. Sekali

Bulan pertama di tahun 2014 disambut dengan hujan-hujan yang deras. Orang-orang yang tinggal di kota-kota besar dibuat kerepotan karena hujan yang deras. Jalanan tergenang air. Air masuk kedalam rumah. Pakaian-pakain basah tak kunjung kering. Yah, pokoknya semua dibuat kerepotan oleh hujan. Hujannya berlebihan. Hujannya deras sekali, tiap hari hujan. Eh tapi tunggu dulu, bukankah sikap berlebihan itu tak pernah dimiliki oleh hujan? Bukankah hujan hanya turun sesuai kehendak Tuhan? Siapakah yang berlebihan?

Kita atau hujan?

Mungkin kitalah yang berlebihan. Berlebihan dalam mengeluh. Berlebihan dalam kelalaian. Berlebihan dalam segala hal. Sampai kita lupa memaknai ini : “Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?”


Leave a comment

Desember yang akan usai

Ah, sudah lama blog ini tak saya isi. Tahu-tahu desember akan segera usai, dan tahun baru sudah di depan mata. Saya tak tahu lagi apa saja yang sudah saya lakukan selama tahun 2013 ini. Mungkin beberapa hal yang sia-sia. Saya juga tak tahu apakah beberapa resolusi di awal tahun 2013 sudah terlaksana atau bahkan tidak ada yang terlaksana sama sekali. Tetapi tentu saja, tahun 2013 adalah tahun yang saya jalani dengan hati riang.

                Di tahun 2013 ini saya lebih gemar membaca, khususnya membaca buku-buku sastra ( bukan karena ingin di bilang sok sastrawi, tapi buku-buku sastra memang menarik). Sebelumnya, di tahun 2012, saya lebih gemar membaca buku motivasi.  Mungkin karena dulu saya benar-benar jadi manusia yang lemah sekaligus payah, maka dari itu buku motivasi menarik sekali untuk saya. Saya harap, di 2014 nanti banyak hal-hal baru yang saya gemari. Semoga.

Setiap tahun baru, selalu aja ada acara-acara khusus untuk merayakannya. Biasanya tahun baru selalu dirayakan dengan cara yang gaduh. Saya ingat pada kucing liar yang selalu membuat gaduh atap kamar saya, kucing itu tak kenal waktu untuk menganggu. Saya yakin dia juga tak merayakan tahun baru yang gaduh. Karena kucing memang tak kenal waktu. Lalu, kini, dan nanti sama saja baginya.

Selamat menikmati liburan. Selamat menemui tahun yang ditunggu-tunggu. Tahun baru

               

 


1 Comment

kepada kau yang barangkali [ puisi ]

kepada kau yang barangkali [ puisi ]

: untuk Fasya Aulia

I

kutemukan kau

dalam jeda yang tak teraba

kukenali kau

dalam senyum yang selintas

lalu ku cari tahu

siapa namamu?

II

kau yang barangkali

melekat sangat dalam benakku

walaupun membayang

walaupun samar

III

kau yang barangkali

kususuri kau dalam raguku

tetapi tetap saja

kau  masih barangkali

lalu dengan apa kau jadi kepastian?

IV

kau yang barangkali

kepadamu kubawakan hatiku

kepadamu kubawakan  cintaku

kepadamu kubawakan rinduku

dengan itu kugenapkan dirimu

dan semoga jadi niscaya

bukan barangkali

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 904 other followers