Hujan. Deras. Sekali

Bulan pertama di tahun 2014 disambut dengan hujan-hujan yang deras. Orang-orang yang tinggal di kota-kota besar dibuat kerepotan karena hujan yang deras. Jalanan tergenang air. Air masuk kedalam rumah. Pakaian-pakain basah tak kunjung kering. Yah, pokoknya semua dibuat kerepotan oleh hujan. Hujannya berlebihan. Hujannya deras sekali, tiap hari hujan. Eh tapi tunggu dulu, bukankah sikap berlebihan itu tak pernah dimiliki oleh hujan? Bukankah hujan hanya turun sesuai kehendak Tuhan? Siapakah yang berlebihan?

Kita atau hujan?

Mungkin kitalah yang berlebihan. Berlebihan dalam mengeluh. Berlebihan dalam kelalaian. Berlebihan dalam segala hal. Sampai kita lupa memaknai ini : “Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?”

Desember yang akan usai

Ah, sudah lama blog ini tak saya isi. Tahu-tahu desember akan segera usai, dan tahun baru sudah di depan mata. Saya tak tahu lagi apa saja yang sudah saya lakukan selama tahun 2013 ini. Mungkin beberapa hal yang sia-sia. Saya juga tak tahu apakah beberapa resolusi di awal tahun 2013 sudah terlaksana atau bahkan tidak ada yang terlaksana sama sekali. Tetapi tentu saja, tahun 2013 adalah tahun yang saya jalani dengan hati riang.

                Di tahun 2013 ini saya lebih gemar membaca, khususnya membaca buku-buku sastra ( bukan karena ingin di bilang sok sastrawi, tapi buku-buku sastra memang menarik). Sebelumnya, di tahun 2012, saya lebih gemar membaca buku motivasi.  Mungkin karena dulu saya benar-benar jadi manusia yang lemah sekaligus payah, maka dari itu buku motivasi menarik sekali untuk saya. Saya harap, di 2014 nanti banyak hal-hal baru yang saya gemari. Semoga.

Setiap tahun baru, selalu aja ada acara-acara khusus untuk merayakannya. Biasanya tahun baru selalu dirayakan dengan cara yang gaduh. Saya ingat pada kucing liar yang selalu membuat gaduh atap kamar saya, kucing itu tak kenal waktu untuk menganggu. Saya yakin dia juga tak merayakan tahun baru yang gaduh. Karena kucing memang tak kenal waktu. Lalu, kini, dan nanti sama saja baginya.

Selamat menikmati liburan. Selamat menemui tahun yang ditunggu-tunggu. Tahun baru

               

 

kepada kau yang barangkali [ puisi ]

kepada kau yang barangkali [ puisi ]

: untuk Fasya Aulia

I

kutemukan kau

dalam jeda yang tak teraba

kukenali kau

dalam senyum yang selintas

lalu ku cari tahu

siapa namamu?

II

kau yang barangkali

melekat sangat dalam benakku

walaupun membayang

walaupun samar

III

kau yang barangkali

kususuri kau dalam raguku

tetapi tetap saja

kau  masih barangkali

lalu dengan apa kau jadi kepastian?

IV

kau yang barangkali

kepadamu kubawakan hatiku

kepadamu kubawakan  cintaku

kepadamu kubawakan rinduku

dengan itu kugenapkan dirimu

dan semoga jadi niscaya

bukan barangkali

Waktu dan Maut [ tafsir puisi ]

Hemat

 

dari hari ke hari

bunuh diri pelan-pelan

 

dari tahun ke tahun

bertimbun luka di badan

 

maut menabungKu

segobang-segobang

 

1977

 

1.

 

Begitulah gambaran waktu dalam sajak berjudul Hemat karya Sutardji Calzoum Bachri. Waktu bisa menjelma luka, dan terkadang waktu juga bisa menjelma duka. Waktu bisa menjadi kawan yang ramah, tetapi lain waktu dia juga bisa menjadi musuh. Setiap orang yang kurang piawai mengatur waktu / menjadikannya sahabat pada akhirnya akan merugi. Tanpa disadari, maut sudah menatapnya bulat-bulat.

 

2.

“dari hari ke hari / bunuh diri pelan-pelan” kata Sutardji. Dalam baris sajak itu kita tahu, waktu bersahabat dengan kematian. Mereka saling bertautan. Dan jika saja kita masih acuh, masih larut dalam keriuhan yang kosong, mereka bisa memasung kita setiap saat.

 

3.

Dalam kebosanan pun kita harus tetap waspada. Bila waktu dan maut berkerjasama, kita hanyalah debu yang diterpa angin pagi. Kita agaknya harus bersahabat dengan waktu, agar kelak, maut menjemput kita dengan cara yang bijak. Dengan senyum yang hangat. Itulah harapan kita semua.

 

Aku tak mengerti ‘Aku’ [ Puisi ]

Aku tak mengerti ‘Aku’ [ Puisi ]

 

Aku yang ini ingin kau

Aku yang itu ingin kita

Aku yang ini ingin diam

Aku yang itu ingin ceracau

Aku yang ini santun

Aku yang itu berontak

Aku yang ini takut

Aku yang itu berani

Aku yang ini jalan

Aku yang itu gontai

Aku yang ini pergi

Aku yang itu sendiri

Sepi sudah semuanya

Pergi ke sudut hati masing-masing

Aku memang tak mengerti ‘Aku’

Arti Kebanggaan versi Rakhmad

Apa arti kebanggaan buat lo ?

Rasanya jika saya disuruh untuk mendefinisikan arti dari sebuah kebanggaan, jawabannya mungkin bisa agak naïf, atau bahkan mungkin menjadi sangat klise. Karena kita tahu, apa-apa yang sering kita definisikan pada akhirnya akan melahirkan kesan klise. Oleh karena itu saya tak akan menjawab pertanyaan itu dengan definisi atau bahkan kutipan-kutipan dari para motivator. Saya akan memulai menjawabnya dengan apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya pahami. Saya akan mendefinisikannya melalui cerita.

Dan inilah cerita saya…

Bangga jadi diri sendiri dengan segala mimpiku

Banyak orang yang sering rancu ketika memahami arti dari sebuah kebanggan. Orang-orang sering keliru ketika mengartikan kebanggan sebagai gengsi. Kebanggaan berbeda dengan gengsi. Kebanggaan itu datangnya dari hati yang tulus, sedangkan gengsi datangnya dari kepalsuan, dari keinginan yang pongah. Pemahaman semacam ini saya dapatkan dari pengalaman saya sewaktu SMA dulu. Waktu itu banyak sekali teman-teman saya yang ingin meneruskan kuliah di jurusan kedokteran dan keguruan.  Sayangnya, ada beberapa dari mereka memilih jurusan itu karena : ikut-ikutan, gengsi atau label profesi ( gue dong jadi dokter ). Saya tidak bermaksud mendiskreditkan pilihan mereka, tetapi sayang sekali kan kalau pilihan itu datangnya bukan dari hati nurani, tetapi justru datang dari kepalsuan—dalam hal ini gengsi.

Saya dan teman-teman saya yang setia pada mimpinya

Saya sendiri memiliki pilihan yang berbeda dengan teman-teman saya kebanyakan. Saya memilih jurusan Agribisnis IPB. Pilihan itu didasari atas keinginan hati saya sendiri( belakangan saya sadari, ini juga karena gengsi. Tapi Alhamdulillah saya sadar ). Keinginan itu sudah muncul ketika saya baru saja masuk SMA. Yang saya lihat dari jurusan itu adalah banyaknya peluang yang bisa diraih disana. Karena kita tahu, Indonesia ini adalah negara agraris, Dan dengan menjadi sarjana Agribisnis, banyak hal yang bisa saya lakukan untuk negeri ini.

Tetapi sayang sekali, impian saya untuk menjadi sarjana Agribisinis IPB itu harus terputus di tengah ajalan. Saya tidak lolos seleksi SNMPTN. Kegagalan itu membuat saya dirundung kekecewaan mendalam. Bagaiamana rasanya sih ketika impian yang sudah kamu rawat jauh-jauh hari, pada akhirnya layu ditengah jalan? Sedih. Itu yang saya rasakan.

Setelah kegagalan saya itu Ayah saya menasehati saya untuk ikhlas dan tabah. Ayah saya menganjurkan saya untuk berkuliah di sebuah kampus yang letaknya tak jauh dari rumah kakeknya di Subang. Nama kampusnya adalah Universitas Subang. Sebuah nama yang gemanya belum pernah mampir di telinga saya. Saya menurut walaupun pada saat itu dengan hati yang gerutu dan terpaksa. Saya akhirnya memlih jurusan Administrasi Negara dan resmi menjadi Mahasiswa Universitas Subang. Jurusan itu saya pilih karena saya tidak tahu memilih jurusan apalagi di kampus itu. Saya memilih jurusan itu secara asal karena saya ingin menganggap ini hanya sebagai masa istirahat saya. Saya akan mencoba tes SNMPTN di tahun berikutnya.

Ketika saya mulai menjalani hari saya di kampus itu, banyak sekali orang-orang yang mengomentari saya dengan nada sinis “jauh-jauh dari Sidoarjo, eh kuliahnya malah di kampus kacangan Subang…”. Komentar-komentar seperti sering membuat telinga saya gatal, tetapi lama-kelamaan, komentar seperti itu justru membuat mental saya semakin kuat. Saya tetap yakin pada mimpi-mimpi saya. Ini hanyalah kesuksesan yang tertunda.

Saya dan teman2 BEM dalam acara Seminar Nasional

Waktu terus berlalu. Banyak hal yang saya alami di kampus itu. Banyak teman-teman baru. Banyak hal yang membuat saya semakin matang. Di kampus itu jugalah saya menemukan apa-apa yang saya cari selama ini. Rupanya yang diajarkan di jurusan administrasi negara itu tidak jauh berbeda dengan passion saya(hal-hal yang saya sukai). Saya menemukan beberapa mata kuliah yang beraneka ragam. Mulai dari Filsafat, Sosiologi, Psikologi, Manajemen, Hukum, Statistika, dan sampai Politik saya temukan di jurusan ini. Dari sini jugalah hobi membaca dan menulis saya itu muncul. Saya mulai menyukai sastra, saya mulai belajar menulis esai. Lewat sini juga saya dipertemukan dengan teman-teman yang luar bisa. Wawasan saya semakin terbuka. Saya bisa merakit mimpi saya kembali. Saya pun menggugurkan niat saya untuk mencoba tes SNMPTN lagi karena saya sudah merasa nyaman dan betah menimba ilmu di kampus itu—di Universitas Subang.

Saya akhirnya sadar bahwa tempat mencari ilmu itu bisa dimana dan mimpi itu bisa diraih dengan berbagai macam cara. Ini saya pelajari dari salah satu penulis favorit saya, Tasaro GK.

Beliau adalah penulis beberapa novel best-seller yang sangat produktif, salah satu karya masterpiecenya yang paling terkenal adalah novel Trilogi Muhamad. Kualitas tulisannya punya nilai sastra tinggi padahal beliau ini bukan lulusan dari jurusan sastra kampus terkemuka. Beliau lahir  di daerah Gunung Kidul di jawa tengah. Beliau ini alumni dari sebuah kampus swasta di jawa tengah. Nama kampusnya juga asing di telinga saya. Dan bahkan kata beliau, kampusnya kini sudah tidak ada lagi. Alias sudah tutup. Inilah pointnya. Tasaro GK belajar di tempat yang biasa saja, bukan kampus bonafit yang megah, tetapi lihat sekarang karya yang ia hasilkan.

Saya dan Tasaro. Semoga kerendahan hatinya menular pada kita semua

Kebanggaan adalah ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kebanggaan adalah ketika kamu bisa terus memperjuangkan mimpi-mimpimu. Kebanggaan adalah ketika kamu bisa berkarya, tak peduli dari mana asalmu. Tak peduli dimana tempatmu menimba ilmu. Ilmu bisa diraih dimana saja. Bahkan dari tempat sampah sekalipun.

Itulah yang kini saya jadikan pegangan hidup saya.

Bangga saat orang tua kita bersyukur mempunyai anak seperti kita

Ada salah satu novel favorit saya yang saya baca berulang-ulang kali. Novel itu adalah novel “9 summers 10 autumns”. Novel ini yang terinspirasi dari kisah nyata penulisnya Iwan Setyawan. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup Iwan sebagai seorang anak sopir angkot dari Kota Batu yang  sukses menjadi direktur di New York City. Saya selalu bayangkan itu. Betapa ajaibnya hidup ini. Seorang anak dengan latar belakang seperti itu bisa menaklukkan sebuah kota megah yang ketat akan persaingan. Mungkin ada satu rahasia sukses dari Iwan. Iwan dalam cerita ini adalah orang yang selalu mengagungkan cinta orang tuanya. Ia berjuang mati-matian demi rasa cintanya pada orang tua. Keajaiban itu datang ketika cintanya kepada orang tua menjelma doa-doa.

Saya dan mas Iwan. Semoga nilai-nilai suksesnya menular kepada kita semua

Ada momen yang sangat mengharukan dalam novel ini, yaitu ketika orang tua Iwan ini bersepakat untuk menjual angkot yang biasanya dipakai ayahnya untuk mencari nafkah. Satu-satunya alat mata pencaharian yang digunakan untuk mencari sesuap nasi itu di jual untuk biaya kuliah si tokoh tersebut. Bayangkan saja bagaimana besarnya pengorbanan orang tuanya. Dan angkot itulah yang mengantarkannya kepada kesuksesannya yang sekarang. Orang tuanya bangga dan bersyukur karena pengorbanan orang tuanya tak disia-siakan olehnya, ia telah sukses mengangkat derajat orang tuanya. Dia telah berhasil menakhlukkan kota new York dengan segala persaingannya. Barangkali inilah yang dinamakan sebagai kebanggan. Saya bisa belajar dari kisah Iwan Setyawan ini, “bangga adalah ketika orang tuamu tak sia-sia mempunyai anak sepertimu.”

Saya ingin melakukan hal yang sama seperti tokoh dalam novel itu. Membuat orang tua saya bangga dan bersyukur karena tak sia-sia mempunyai anak seperti saya.

Bangga saat bisa bermanfaat bagi alam semesta dengan segenap isinya

“Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama.” Kurang lebih seperti itulah pesan Nabi Muhamad SAW kepada kita. Pada pesan itu terlihat sangat jelas betapa Nabi pun menghimbau kita untuk terus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Dan kata terakhir “bagi sesama” itu tidak saya tafsirkan dalam definisi yang sempit. Saya tafsirkan  “bagi sesama” itu dalam arti yang luas “sama-sama makhluk ciptaan Tuhan”. Jadi tidak terkungkung dalam jenis, bentuk, suku, ras, ataupun agama. Kita bisa bermanfaat bagi siapa saja, bagi tanaman atau hewan. Kita juga bisa bermanfaat bagi sesama manusia, tak peduli apapun rasnya, tak peduli apapun sukunya, tak peduli apapun agamanya. Kebaikan itu bisa disalurkan kepada siapa saja. Dan ini saya pelajari dari salah satu tokoh favorit saya “Gus Dur”

Walaupun kini beliau sudah berada di alam lain, tetapi kebaikan yang telah beliau torehkan masih terkenang hingga sekarang. Kita tentu ingat siapa yang menghapuskan tanda “eks-tapol” pada kartu tanda pengenal para korban stigma PKI. Kita juga tentu masih ingat siapa yang membuat tanggal tahun baru imlek dijadikan hari libur nasional. Itulah Gus Dur, kebaikannya melingkupi semua. Dan itulah yang mungkin dinamakan sebuah kebanggaan. Bangga adalah ketika kita bisa bermanfaat bagi alam semesta dan segenap isinya.

Bangga saat menjadi I.N.D.O.N.E.S.I.A

meskipun belum bisa seperti mereka, saya yakin kelak bisa menorehkan prestasi seperti mereka

Indonesia adalah negara saya. Mungkin bukan negara saja, lebih tepatnya kini Indonesia adalah darah dan tarikan nafas saya. Ketika tim-U19 Indonesia kemarin menjuarai kompetisi sepak bola  di ajang AFF Cup, yang bergemuruh rupanya bukan cuma suara supporter dari seluruh Indonesia, tetapi jiwa saya juga bergemuruh. Itulah kebanggan bagi saya. Meskipun saya tidak secara langsung ikut berjuang dalam kompetisi itu, tetapi jiwa saya seakan-akan menyatu dalam semangat para pemain garuda muda. Jujur saja, ketika menonton proses penyerahan piala itu, air mata saya mengambang, saya terharu. Saya ikut bangga karena telah menjadi bagian dari I.N.D.O.N.E.S.IA. Jika ada yang menghina Indonesia, berarti dia juga telah menghina harga diri saya.

Kebanggan menjadi Indonesia ini juga tercurah dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan : saya lebih bangga makan tempe dari pada makan makanan western. Saya lebih bangga memakai produk-produk buatan Indonesia ketimbang produk impor dari luar. Saya yakin itu. Keyakinan saya semakin kuat ketika mendengar cerita langsung dari seorang teman saya yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar di eropa. Ternyata banyak sekali produk Indonesia yang bertengger disana. Ini menjadi bukti bahwa produk kita tidak kalah dengan produk asing.

Dan sekali lagi. Kebanggaan adalah momen ketika kita bisa menjadi Indonesia, membela dan menghargainya. Setinggi-tingginya.

Itulah jawaban saya jika ditanya “apa arti kebanggaan menurut lo ?”

Mungkin masih ada kesan naïf dan klise dari ulasan tadi. Tetapi itulah jawaban paling lugas yang terlontar dari benak manusia biasa dengan sejuta mimpi seperti saya. Boleh setuju, boleh tidak :D

Supported by :

New-Andromax-U2-250x250-JPEG