Dua Lelaki : Biasa dan Luar Biasa │ #NarasiBebas

Ini hanyalah sebuah narasi singkat yang menceritakan persahabatan dua orang lelaki biasa dan lelaki luar biasa. Mungkin ini terkesan sederhana , tetapi di balik semua itu ada makna yang di selipkan. Makna yang bisa menjelaskan apa arti sebuah persahabatan. Mereka berdua adalah :

AKU

Lelaki biasa dengan talenta yang biasa-biasa saja. Tak begitu cerdas — tetapi juga tak begitu bodoh. Yang membuatnya agak mirip dengan sahabatnya adalah : semangatnya yang selalu memerah nyala terang. Itu yang membuat mereka sedikit sama. Tak jarang mereka juga sering mendebatkan sesuatu — yang tak seharusnya diperdebatkan. Aku memanglah lelaki biasa. Mungkin juga tak seberapa penting bagi sebagian orang. Tetapi ia bertekad kelak akan menjadi lelaki luar biasa. Mari kita tunggu saja.

YOGA

Lelaki luar biasa yang dianugrahi sejuta talenta. Itulah mengapa ia menjadi lelaki luar biasa. Dia mempunyai talenta yang luar biasa memang. Idealis, genius, plegmatis, dan optimis menyatu dalam jiwa raganya. Selain itu dia tergolong pria yang disiplin dan rapi. Tak jarang Aku sering di tegur karena meminjam bukunya yang rapi — lalu mengembalikannya dalam keadaan yang tak rapi.

Aku dan Yoga secara kebetulan di pertemukan dalam kelas yang sama dan sebangku selama tiga tahun. Itu membuat hubungan persahabatan Aku dan Yoga semakin terjalin. Aku dan Yoga selalu saling mengisi. Mereka memanfaatkan keunggulan mereka masing-masing. Yoga yang unggul dalam hal-hal yang lebih mengarah ke cara berfikir yang sistemik dan teratur sangat membantu Aku yang mempunyai ide-ide liar nan segar. Dari situlah mereka membuat tugas sekolah bersama. Sampai-sampai Yoga pernah berfikir — andai saja kemampuan mereka itu bisa disatukan dalam satu tubuh yang utuh. Itu adalah ide yang cukup mengerikan memang tetapi brilian juga.

Selain itu Aku dan Yoga juga sering berdebat soal ideologi politik yang sebenarnya tak penting untuk mereka bicarakan. Umur mereka terlalu dini untuk berdebat soal-soal politik yang terkadang terkesan sarkisme. Aku dan Yoga juga sering berdebat soal wanita. Padahal pengetahuan mereka tentang wanita sebenarnya sangatlah dangkal. Mereka berdua sama-sama kikuk dalam hal ini. Ada lagi kesamaan antara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama membenci pelajaran seni yang di isi oleh seorang nenek tua dengan wajah beringas. Bahkan Aku pernah di usir dari kelas oleh nenek itu karena tak membawa batang penggaris. Sedangkan Yoga pernah mendapat kecaman dari nenek itu karena tak becus menyerut pensil. Sekali lagi mereka memang berbeda, tetapi banyak hal sederhana yang membuat mereka agak sama.

Setelah lulus SMA mereka berpisah. Mereka meneruskan kuliah di tempat yang berbeda. Mereka ingin mengembangkan minat dan bakat mereka yang berbeda. Tetapi lagi-lagi mereka punya kesamaan. Mereka berdua ingin membela mimipi-mimpinya habis-habisan. Apapun itu halangannya. Mimpi mereka akan terus menyala. Semangat mereka pun akan terus tersulut.

Jangan pernah takut bermimpi !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s