Andaikan buku TEKS serenyah buku Raditya Dika | #IdeLIar

Menurut pandangan sebagian orang, orang sering keluar-masuk perpustakaan itu selalu mendapat stereotipe sebagai kutu buku. Kalau boleh jujur, saya kurang setuju dengan ini stereotipe ini karena saya sendiri adalah salah satu orang yang sering keluar masuk perpustakaan.

Banyak hal yang biasa saya lakukan di perpustakaan : dari meminjam buku atau hanya sekedar membaca koran. Tetapi sebagian teman saya juga sering melabeli saya sebagai kutu buku. Kata mereka : “mad mad, kamu tuh jadi orang kok rajin banget  keperpus, dasar mata empat.” Mendengar kata-kata itu sebenarnya saya risih sekali. Dan ada yang lebih parah lagi ketika saya ikut bakar ikan bersama mereka. “Mad, coba cari di buku dong, gimana caranya bakar ikan yang baik dan benar.” Dan gelak tawa teman-teman yang lain tak terbendung lagi. Saya pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman tipis. Tetapi dalam hati saya agak tersinggung sebenarnya. Kata-kata itu seakan menunjukkan bahwa saya ini orang yang kaku, rigid, dan apa-apa mesti dari buku. Mungkin dari sini saya ambil positifnya sajalah. Teman-teman saya bilang seperti itu karena mereka belum tahu kegiatan saya diperpustakaan. Padahal di perpustakaan kan tidak selalu membaca buku-buku teks kuliah. Walaupun saya juga sering tertarik untuk meminjam buku teks yang ada diperpustakaan.

Dan ada salah satu buku teks yang menarik perhatian saya adalah buku Pengantar Ilmu Komunikasi karangan Prof. Deddy Mulyana. Saya suka dengan buku ini, karena bahasannya di kemas secara populer dengan bahasa yang renyah. Yang membuat saya lebih tertarik lagi, dibuku ini juga diselipkan humor-humor segar seperti buku humor Raditya Dika. Jadi ketika membaca buku ini, kita tidak akan stress bila membaca buku yang cukup tebal itu. Misalkan saja semua buku teks yang kesannya eksklusif dan konvensional itu bisa dikemas seperti buku Prof Deddy tadi dan tambahi dengan gaya khas menulis raditya dika, mungkin teman-teman saya yang melabeli saya kutu buku tadi juga akan tertarik.

Agaknya memang kita membutuhkan buku-buku teks seperti itu dengan jumlah yang lebih banyak lagi dan bervariasi agar minat baca para mahasiswa seperti saya dan teman-teman bisa terus berkobar. Semoga saja amin.

 

PS : Jangan selalu melabeli orang yang berkaca mata itu kutu buku ya. Beneran risih rasanya

3 thoughts on “Andaikan buku TEKS serenyah buku Raditya Dika | #IdeLIar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s