Hikmah dari otak Einstein | #MotivasiDiri

 Einstein brain

Ketika Einstein beerumur 3 tahun. Ia belum bisa berbicara. Bahkan ketika sudah mulai bisa, kalimat yang diucapkan harus diulang sampai dua kali. Sampai umur 9 tahun einstein masih mengalami kesulitan berbicara. Ibunya yang khawatir dengan perkembangannya yang tidak normal ini segera memeriksakannya. Rupanya Einstein didiagnosa menderita Benign Macrocephaly yang nantinya bisa menjurus pada keterbelakangan mental.

Tapi takdir berkata lain. Einsten mendapatkan hadiah nobel dan menjadi pembicara dimana-mana. Dan bahkan einsten menjadi kata lain dari genius dalam bidangnya dalam kamus bahasa inggris. Setelah kematiannya, otak einsten diteliti. Penelitian itu menunjukkan bahwa otak einstein tidak memiliki regio operculum pariental yang dibutuhkan untuk fungsi verbal manusia . Tetapi di sisi lain lobus parietalnya lebih besar, sehingga ia pandai dalam kognisi dan matematika.

 

Dulu ketika SMA, saya juga mempunyai seorang teman yang cerdasnya minta ampun dalam bidang matematika. Dia paling mahir dalam menyelesaikan soal-soal matematika atau fisika dengan rumus yang menurut saya rumit bin ruwet. Soal seperti itu, bisa diselesaikannya dengan waktu singkat dan jawabannya pun benar. Lain halnya dengan saya yang harus memutar otak lebih keras dan harus melihat banyak contoh soal lagi untuk menyeselesaikan soal seperti itu. Maka dari itu saya kagum dengan kecerdesannya itu. Tetapi sayang, ini tidak berlaku pada ilmu sosial yang memerlukan kemampuan menghafal dan analisis. Jika dia dihadapkan dengan soal-soal seperti itu. Dia angkat tangan.

Saya dan teman saya memang berbeda. Teman saya pandai dalam bidang matematika, saya paling lemah dalam bidang ini. Tetapi sebaliknya saya paling senang mengerjakan soal analisis, teman saya : baru membaca soalnya saja sudah membuatnya tidak bergairah.

Dari sinilah saya belajar bahwa kita tidak bisa menghakimi orang itu bodoh atau cerdas hanya melihatnya dari satu dbidang saja. Siapa tahu otak kita memang di setting khusus seperti otak einstein itu.  Karena pada hakikatnya, yang namanya kecerdasan itu sifatnya jamak. Kecerdasan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. So, mulai sekarang jangan pernah menyerah untuk terus menggali potensi tersembunyi kita. Siapa tahu kita itu seperti einsten yang dilahirkan dengan kecerdasan khusus. Boleh jadi kita kita tidak mahir dalam matematika, tetapi mungkin kecerdasaan itu di bidang olahraga. Seperti kata pepatah : jangan ajarkan ular berbisa untuk melilit jika bakatnya adalah menggigit. Fight ! Bismillah

3 thoughts on “Hikmah dari otak Einstein | #MotivasiDiri

  1. haha… jadi inget… dulu masih SMP, kata saya pelajaran b. ind paling gampang n matematika pling sulit… tapi kata teman saya malah sebaliknya…

    kita punya kelebihan dan kekurangan masing2😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s