Tokyoites | #NarasiBebas

“We are the hollow men
We are the stuffed men
Leaning together
Headpiece filled with straw. Alas!
Our dried voices, when
We whisper together
Are quiet and meaningless
As wind in dry grass
Or rats’ feet over broken glass
In our dry cellar
Shape without form, shade without colour,
Paralysed force, gesture without motion;

– The Hollow Men” 
― T.S. EliotPoems: 1909-1925

Kereta telah keluar dari terowongan gelap nan sunyi. Keheningan yang ku nikmati seketika pecah. Terlihat para Tokyoites yang tadi lelap dalam tidur sudah mulai melawan kantuknya lagi. Sebagian dari mereka ada yang mulai bergegas memeriksa barang bawaannya, dan sebagian lagi hanya merubah posisi duduknya. Kelelahan yang tergambar pada wajah-wajah dingin para Tokyoites ini semakin menunjukkan indikasi bahwa mereka memanglah seorang workahholic—yang hidupnya hanya dihabiskan untuk pekerjaan.

Seringkali aku ingin menanyai mereka satu-persatu. Apakah mereka mengenal Tuhan dan cinta. Karena ku rasa, mereka terlalu sibuk dalam hal yang berbau profan. Bahkan mungkin mereka tak ada waktu untuk sekedar menatap langit barang satu-dua menit. Jika saja mereka mau menyempatkan diri untuk itu, aku yakin mereka akan di bimbing oleh langit untuk  memahami hal-hal indah perihal Tuhan dan cinta.

Setelah kereta benar-benar berhenti dan pintu kereta terbuka, para Tokyoites segera menghambur dan membanjiri stasiun. Aku mengelus dada. Aku lega. Akhirnya tak ada lagi yang mati hari ini. Tak ada yang bunuh diri hari ini. Sudah cukup rasanya setiap hari ada yang nyawa yang terbuang sia-sia. Nyawa seperti menjadi barang murahan. Atau bahkan tak berharga. Ku harap upaya untuk menekan tingginya angka bunuh diri dijepang melalui kampanye kebahagiaan itu benar-benar berhasil. Karena aku sudah bosan dengan bahasa-bahasa eufisme yang dituturkan oleh pihak kereta api jika ada yang mati karena bunuh diri. Itu terlalu ironis bagiku.

Aku pun turun dari kereta dan menepi mencari tempat duduk kosong. Duduk sejenak sambil menikmati pemandangan lautan Tokyoites ini. Aku ingin tahu, sebenarnya makhluk seperti apakah mereka ini. Duduk dan memperhatikan setiap wajah-wajah beku mereka.

Barangkali wajah-wajah beku itu telah dibentuk oleh kesendirian dan kesepian.

“Sering kita berdebar bagaikan serdadu Troya. Dalam kebosanan pun kadang-kadang kita masih berdebar, karena selamanya kita masih mempunyai harapan. Betapa kecil pun harapan itu.” Ujar Budi Darma. Agaknya Budi darma memang benar. Tetapi, apakah itu juga berlaku untuk mereka : para Tokyoites

Aku merasa bagaikan seseorang ditengah lautan yang kesepian.

Pernah dulu ketika aku masih di New York, aku bertanya pada kawanku yang sudah lama menetap di Tokyo. Pertanyaanku kepadaya : Apakah dalam bahasa jepang ada sebuah kosa kata untuk merayu wanita atau kata-kata gombal, seperti “Sayang”,”Cinta”,”Manisku”, atau seperti dalam bahasa inggris, seperti, “My Darling”,”Honey”,”My Sweet Cupcake”, dan rupanya dia sendiri kesusahan mencari kata-kata seperti tadi.

Mungkin kata Rinda memanglah benar adanya. “Jika kau pergi ke Tokyo dan menetap untuk beberapa waktu, aku yakin, kau akan tetap sendiri tanpa menemukan cinta. Karena yang ku tahu para Tokyoites masih asing dengan cinta.”

Kurenungi kata-kata itu.

Bukankah cinta termasuk salah satu tanda dari sebuah kehidupan ?

Dan aku pun tenggelam dalam kesendirian.

Tokyo : sebuah kesepian di ruang ramai nan riuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s