April dan Sastra

“April is the cruelest month, breeding
lilacs out of the dead land, mixing
memory and desire, stirring
dull roots with spring rain.”
― T.S. EliotThe Waste Land

Mungkin bagi seorang T.S Elliot bulan April adalah bulan yang kejam, jahat, bengis dan suram. Tetapi bagi saya bulan April adalah bulan pembuka jalan. Dibulan april ini saya dipertemukan dengan  beberapa kegiatan baru dan hobi baru, dan salah satu hobi baru saya adalah membaca buku-buku bernilai sastra seperti novel roman karya Pramoedya Ananta Toer dan Buku puisi Sapardi Djoko Damono

Gara-gara hobi baru saya yang suka baca puisi ataupun kata-kata yang mengandung nilai puitik ini, teman-teman saya jadi sering protes : “Mad, plis deh kamu jangan alay gitu.”. Agaknya mereka harus bisa membedakan mana alay, mana puitis. Tapi tak jadi masalah, saya tetap bahagia. Saya telah menemukan sebuah hobi yang seolah-olah memberikan nuansa baru pada jiwa saya : sastra

Dan karena honi ini juga, saya sekarang jadi ketagihan potongan film AADC ini

Saya ingin membaca lebih banyak lagi karya-karya sastra. Konon, dengan membaca sastra itu akan berpengaruh pada perilaku kita. Karena sastra adalah media kontemplasi dan media  intropeksi diri

Ah, sastra memang indah.

April dan Sastra

Semi memang tak tumbuh ditempatku

Tetapi kata bermekaran dimana-mana

Disana-disini-dimana-mana

“Ah bulan april memang semarak” katamu dengan wajah merona

Ku belai rambutmu

Ku cium keningmu

Ah, sastra, kucinta kau sekarang

One thought on “April dan Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s