Seminar Yang Muda Yang Berjaya | #SeminarNasional

Sabtu, 11 Mei 2013 adalah hari yang tak mungkin saya lupakan. Hari itu akan saya catat sebagai salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Karena pada hari itu, untuk pertama kalinya saya diberikan wewenang untuk menjadi ketua pelaksana Seminar Nasional oleh teman-teman Kabinet BEM Fakultas Administrasi Univ. Subang. Its be a honour. Seminar Nasional itu bukan acara main-main, jadi konsep acaranya juga harus dipikirkan secara matang. Mengingat acara ini adalah acara tahunan, idealnya acara ini memang harus benar-benar meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

Awalnya konsep acara ini sudah saya buat 4 bulan sebelum acara, dari mulai perumusan tema sampai kepada pemilihan calon pembicara. Terpilihlah sebuah tema yang berjudul ‘Yang Muda Yang Berjaya : Peran Strategis dalam proses Pembangunan Bangsa”, kenapa tema ini saya pilih ? karena menurut hemat saya, tema ini adalah tema kontemporer yang selalu menarik untuk didiskusikan. Ditambah lagi ketika kita melihat masalah-masalah pemuda yang sedang menggejala dewasa ini. Pemuda sedang mengalami disorientasi. Yang mana pemuda, terkesan menjelma menjadi remaja. Remaja yang sering menjadi korban dari Teknologi dan Budaya Pop. Maka dari itu dirumuskanlah tema ini.

Dan tentunya tema ini akan semakin seru jika pembicaranya adalah tokoh pemuda yang bisa dijadikan inspirator — role model sukses. Setelah mencari-cari yang pas, terpilihlah 2 pembicara yang sungguh, saya pun merasa seperti mimpi bisa mengundang mereka berdua. Mereka adalah :

Roby Muhamad

Lagi Storytelling ni :D

Prof Roby menyihir mata para peserta

Roby adalah dosen di Fakultas Psikologi UI. Beliau adalah seorang sosiolog muda yang menaruh minatnya pada ilmu jejaring social. Pernah masuk dalam jajaran penemu nasional versi majalah Tempo karena keikutsertaannya dalam proyek kecil dunia ( Pengembangan Teori Milgram ) yang pernah ditayangkan oleh tv berita Amerika CNN TV. Dan yang paling menarik : beliau ini adalah salah satu actor dalam film 9 summers 10 autumns-nya mas Iwan Setyawan😀

Hikmawan Saefullah a.k.a Indra Paspki Alone at Last

SONY DSC

Ketampanannya bikin peserta cewek mabuk😀

Hikmawan Saefullah atau yang sering dikenal dengan sapaan Papap ini adalah dosen di Departemen Hubungan Internasional UNPAD. Selain sibuk mengajar beliau ini juga sibuk menyalurkan bakat bermusiknya. Iya, belaiu dikenal karena Bandnya : Alone at Last. Salah satu band underground indie ternama asal Bandung yang sering mengisi acara Bandung Berisik.

Jadi cocok deh, dua-duanya punya aura artis dan aura intelektual. Yeah !

11 mei 2013. Dan acarapun dimulai

Yang pertama menyampaikan materi adalah Pak Roby. Mula-mula beliau menceritakan latar belakang pendidikannya dan pengalamannya saat berkuliah di Amerika. Rupanya Pak Roby ini gelarnya banyak banget. S1 Fisika ITB, S2 Fisika Teori ITB, S2 Social Methods Columbia University, S2 lagi jurusan Sosiologi di kampus yang sama, dan S3 Sosiologi di kampus yang sama lagi. Keren kan ? dan yang lebih keren orangnya itu low-profile banget, nggak ngeliatin kalau beliau ini orang WOW.

Setelah menceritakan latar belakang pendidikannya, beliau pun bercerita tentang trik Kampanye Barack Obama untuk maju sebagai calon Presiden Amerika. Bagaimana para pemuda di Amerika bisa tertarik untuk menjadi volunteer tim kampanye calon Presiden Barack Obama. Kita tahu pada saat itu Obama bukanlah siapa-siapa. Lalu apa yang menarik dari Obama pada saat itu, sehingga para pemuda disana rela berkorban untuk menjadi tim kampanyenya ? Dan rupanya trik yang digunakan Barack Obama adalah dengan metode bercerita. Obama mencoba menginspirasi rakyat Amerika dengan cerita. Obama menganalogikan negara Amerika sebagai Bis Kota, dia berkata bahwa misalkan Hillary Clinton supir Bis Kota itu, barangkali memang Bis Kota itu akan melaju kencang dijalan tol bebas hambatan karena memang Hillary orang yang hebat dan sudah berpengalaman. Tetapi itu berlaku  jika asumsinya pada saat itu Amerika memang berada dijalan tol bebas hambatan. Sayangnya kenyataannya tak seperti itu. Pada saat itu Amerika sedang dilanda krisis ekonomi dan masalah perang Iraq—Afganistan. Jadi asumsinya Amerika sedang terposok dalam jalan berlubang yang berlumpur. Dan yang diperlukan Amerika pada saat itu adalah supir yang bisa menginspirasi para penumpang untuk bersama-sama mendorong Bis ini untuk keluar dari lubang berlumpur. Dan sosok itu adalah ; Barack Obama.

Jadi pointnya : untuk menggerakkan seseorang, yang kita pengaruhi itu bukan saja otaknya, tetapi hatinya juga harus kita sentuh. Dan salah satu cara untuk membangun koneksi-emosional ( hati ) itu ialah dengan cara bercerita. Maka dari itu Kitab-Kitab suci dari berbagai macam Agama isinya adalah Kisah-kisah (cerita). Coba bayangkan saja jika kitab suci itu isinya point-point ajarannya saja seperti powerpoint materi dosen, hmmm pasti membosankan bukan ?😀. So, mulai sekarang buat cerita yuk😀

Dan pembiacara yang kedua adalah Kang Hikmawan. Beliau juga bercerita tentang latar belakang pendidikanya juga. Yang menarik beliau ini juga pernah jadi anak Pesantren loh !? jadi tampang boleh rocker, tapi alim juga tetep😀. Beliau memembawakan materi tentang peran pemuda di era globalisasi. Globalisasi itu apa, awal munculnya dari mana, pengertiannya apa, dan dampakanya bagaimana dijelaskan secara detail oleh beliau. Dan tentu beliau juga memparkan perihal budaya pop itu sendiri, khususnya dalam bidang musik. Lebih teoritis sih, tetapi tetep aja pesertanya pada serius nyimak. Terutama peserta perempuannya😀 sepertinya mereka terpesona tuh sama ketampanannya Kang Hikmawan hehehe.

Dan setelah paparan tersebut selesai, ada sedikit benang merah dari paparan kedua pembicara ini.  Tadi katanya untuk menggerakan orang untuk melakukkan perubahan salah satu caranya adalah dengan cerita. Kita tahu bahwa sekarang ini adalah eranya budaya pop, dimana musik dan film itu mendominasi. Khususnya dominasi di kalangan kaum muda. Dari sinilah solusinya : Jika tadinya  budaya pop itu selalu kita kritik karena ini adalah produk globalisasi yang konsumtif, mengapa tidak kita kuasai saja untuk mengemas cerita itu tadi. Kita kemas menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Dari pada mengkritik budaya pop, yuk mending kita kuasai saja budaya pop itu untuk dimanfaatkan😀

Itu intinya. Saya juga baru ngeh, saya terkadang tanpa sadar juga pernah mengkritik budaya pop padahal saya juga korban budaya pop. Yah kembali lagi deh hehehe. Berdayakan diri sendiri terlebih dahulu😀 kayak katanya Leo Tolstoy

“Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.”
— Leo Tolstoy

 

 

5 thoughts on “Seminar Yang Muda Yang Berjaya | #SeminarNasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s