Kuliah keuangan negara disiang hari

Hari itu, hari kamis tanggal 23 mei 2013, untuk pertama kalinya saya bolos kuliah karena malas. Kuliah dimulai pada pukul 8 pagi, saya bangun jam 7 pagi tetapi karena kantuk yang tak tertahan—ya sudah saya tidur lagi. Bagun-bangun lagi sudah jam 10 siang ( mohon untuk tidak dijadikan teladan ). Saya merasa berdosa telah bolos kuliah untuk pertama kalinya ( padahal sudah berkali-kali), maka untuk menebusnya, saya akan masuk kuliah di mata kuliah terakhir siang itu.

Panasnya matahari tak membuat saya gentar.  Sesampainya dikelas, saya melihat dosen sudah memulai kuliahnya. Saya telat rupanya. Dengan wajah tanpa dosa saya minta izin masuk. Dosen saya yang baik hati itu mengizinkan. Beliau memang salah satu dosen yang dikenal ramah. Namanya Pak Sutedjo. Dia dosen senior di kampus saya. Itu bisa diliat dari rambutnya yang sudah mulai memutih dan kebotakan yang sudah mulai nampak jelas.

Saya duduk dan mendengarkan kuliahnya dengan khusyuk. Saking khusyuknya, kantuk saya muncul lagi. Padahal tadi sudah kenyang. Memang dasar saya ini !

Barangkali ini adalah salah satu dari efek kuliah Sistem Keuangan Negara di siang hari. Apalagi sekarang yang dibahas adalah bab perihal sistem anggaran negara. Haduh, ini membuat saya mengandai-andai. Berandai-andai misalkan punya uang yang dianggarkan itu, ini yang membuat rasakantuk itu muncul lagi. Dari sini saya menyimpulkan : inilah matakuliah yang paling abstrak. Tidak ada uangnya tapi kita dituntut untuk berandai-andai mengelola uang itu. -___-‘

Untung cara mengajar Pak Sutedjo cukup menarik. Hal yang paling menarik adalah ketika beliau berbagi pengalamannya ketika menjadi ketua DRPD Kab. Subang. Iya, dosen saya ini mantan penjabat. Penjabat era orde baru, dimana pada saat itu masih ada dwifungsi ABRI. Menjadi ketua dewan di masa itu bukan hal yang mudah. Banyak kesulitan-kesulitan yang dialami oleh beliau pada saat memimpin sidang. Khususnya pada saat sidang Penyusunan Anggaran, dimana interupsi akan terus mebanjiri forum sidang. Disinilah bagian yang tersulitnya : menyatukan berbagai macam isi kepala untuk menghasilkan kata mufakat.

                “Yang diperlukan saat memimpin sidang adalah  sebuah kepiawaian.” Kata beliau.

Barangkali kemampuan inilah yang jarang dimiliki  oleh kebanyakan orang “kepiawaian”, tak terkecuali saya. Saya termasuk orang yang kurang piawai dalam hal menyatukan pendapat kawan-kawan. Itulah kelemahan saya, maka dari itu saya akan terus belajar beroganisasi. Ya, mungkin inilah praktek dari teori-teori perilaku organisasi Stephen Robbins itu. Teori saja rupanya tidak cukup😀, dan pak Sutedjo bukan hanya menyampaikan teori, beliau juga sudah mengalami. Tidak sia-sia saya kuliah di siang hari.

NB : Mohon diambil baiknya, dibuang buruknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s