Memilih jurusan : IPA atau IPS ?

Tahun ajaran baru akan segera tiba. Anak-anak kelas X yang akan naik kelas XI nantinya akan dibuat bingung dan dilema ketika memilih jurusan. IPA atau IPS? Anak-anak kelas XII yang baru saja lulus, akan bersaing-mati-matian dalam ajang seleksi perguruan tinggi negri dengan berbagai macam jalur seleksi. Dan selalu, jurusan kedokteran dan teknik selalu diserbu. ITB dan UI selalu menjadi favorit. Entah keinginan itu memang datangnya dari hati mereka sendiri atau obsesi orang tua. Saya pun tak mengelak, saya juga sempat berambisi masuk kesana.

Tetapi itu dulu, ketika saya belum diperkenalkan dengan kaka-kaka ini (Nia dan Marky). Ketika pola pikir saya masih terkungkung dalam opini publik. Opini yang selalu beranggapan bahwa anak IPA itu adalah anak-anak cerdas, kreatif, dan baik budi pekertinya, dan IPS sebaliknya anak-anak bodoh dan berandal. Di IPA pun kedokteran adalah jurusan impian. Dokter adalah cita-cita setiap anak semasa kecil ( saya sendiri ketika kecil bercita-cita ingin menjadi dokter keuangan, silahkan tafsirkan sendiri ).

Mungkin memang ada beberapa anggapan yang benar. Tetapi menganggap jurusan lain sebagai jurusan hitam ( yang tak penting dan tak menjanjikan masa depan ) bukanlah cara yang bijak dalam proses menuntut ilmu. Toh, semua ilmu itu bermanfaat. Saya pun dulunya adalah anak IPA, tetapi karena gagal masuk PTN, saya akhirnya dipertemukan dengan jurusan IPS ini : jurusan administrasi negara. Jurusan yang tak pernah terlintas dalam benak saya. Jurusan yang tak pernah menjadi bayangan-cita-cita saya sewaktu masih kecil.  Tetapi dari sinilah saya temukan diri saya yang sesungguhnya.

Saya jadi ingat seorang ilmuwan sekaligus role model sukses saya : Roby Muhamad. Seseorang yang memulai kuliahnya pada jurusan fisika, lalu karena tertarik dengan fenomena social yang ada di masyarakat era Soeharto pada saat itu, ia pun akhirnya meneruskan kuliahnya pada jurusan ilmu sosial. Dan dari situlah akhirnya dia bisa melihat ilmu dari berbagai macam prespektif. Barangkali inilah yang diisyaratkan oleh Prof. Fuad Hassan : jangan terkungkung dalam pola-pikir yang sempit, atau yang lebih dikenal dengan istilah tunnel vision.

Tulisan ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang dibingungkan dalam proses memilih jurusan. Saran saya : ikuti saja suara hati kita, ikuti saja aturan main dari takdir Tuhan, berusaha dengan maksimal dan ikhlaskan semuanya.

Semoga kita bisa menjadi generasi yang bermanfaat di masa depan kelak. Amin

4 thoughts on “Memilih jurusan : IPA atau IPS ?

  1. Saya malahan gamau masuk perguruan tinggi negeri. Saya juga ga ikutan SNMPTN. Sekarang saya masuk perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang saya mau, dan semua baik-baik saja😀
    Dulu waktu SMA saya minat nya masuk jurusan bahasa, sayang peminat nya sedikit jadi jurusan bahasa ditiadakan. Akhirnya masuk IPA dan tiap minggu harus ditakdirkan ketemu rumus, angka, dan nama-nama ilmiah yang bejibun. Nasib hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s