Sepasang Kunang-Kunang

: Untuk Yoga & Rizky

Pada suatu malam yang basah di hutan itu, Seribu kunang-kunang bergerombol pada sebuah danau. Seribu kunang-kunang bermuara dan saling berbagi cahaya di danau itu. Mulanya berjumlah seribu, lama-kelamaan ketika malam semakin kelam, jumlahnya berkurang menjadi delapan ratus. Delapan ratus kunang-kunang itu terdiri dari kunang-kunang jantan dan betina. Dan semuanya berpasangan. Semakin malam semakin kelam, beberapa di antaranya ada yang berpisah karena gelisah. Jumlahnya semakin berkurang. Barangkali beberapa pasang dari mereka pergi mencari hening danau ditempat lain. Dan pada akhirnya hanya ada sepasang yang terbang berbagi cahaya di atas danau itu. Sepasang kunang-kunang jantan dan betina. Yan jantan berasal dari utara dan yang betina dari selatan. Mereka saling berbagi cahaya dan kehangatan diatas danau itu. Hingga malam semakin kelam, hingga fajar mulai berbinar.

Ketika fajar menyeruak, sepasang kunang-kunang itu kembali bersembunyi ke sarangnya yang berada dibalik dedaunan. Hanya untuk beristirahat, lalu meneruskan malam-malam basah berikutnya.

Mereka saling setia untuk bersama-sama, berbagi cahaya di danau itu. Untuk malam selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Sampai nanti. Sampai mati

***

Mungkin sketsa dua kunang-kunang tadi bisa menjadi gambaran untuk hubungan kalian selanjutnya.

Aku mungkin tak banyak tahu perihal hubungan kalian. Karena aku memang bukan siapa-siapa. Yang ku tahu hanya secuil, dan barangkali yang secuil itu juga hanya sekedar prasangka yang keliru.

Untuk kalian berdua.

Aku harap kalian berdua bisa menjadi sepasang kunang-kunang tadi. Saling setia, saling berbagi cahaya dan kehangatan. Walau dinginnya malam begitu kelam. Walau setiap hari tak pernah menjanjikan. Aku harap kalian tetap bersama. Sampai nanti. Sampai mati

Untuk kalian berdua.

Aku tak tahu banyak tentang malam-malam kalian. Tetapi ku harap salah satu dari kalian bersedia meluangkan malamnya. Untuk merapalkan nama. Nama yang menjadi doa panjang dalam tahajud salah satu dari kalian ( atau barang kali kalian berdua ). Doa yang akan menjelma  menjadi kebahagiaan,. Doa yang akan kalian lupakan agar tidak sekedar menjadi harapan. Karena yang selalu kita ingat-ingat pada akhirnya akan menjadi harapan, dan aku yakin kalian tak ingin itu menjadi harapan saja. Apalagi harapan kosong yang memabukkan.

Untuk kalian berdua.

Aku melihat, salah satu dari kalian memiliki mata yang sendu. Mata yang selalu menyimpan kenangan masa lalu. Aku harap setelah kalian bersama, setelah kalian merapalkan janji untuk saling setia. Kenangan masa lalu tak usah menjadi rahasia-rahasia yang harus kalian tutup-tutupi. Tak perlu malu, tak perlu ragu untuk berbagi semuanya. Aku yakin kalian sudah saling memahami, seperti awan yang memahami cuaca.

Untuk kalian berdua.

Kalian berdua memang pasangan yang serasi. Dan jika salah satu dari kalian mulai bersedih, mulai goyah dan gelisah, atau bahkan takut dan mengecil, ku harap di saat seperti itulah salah satu dari kalian akan berujar mengingatkan seperti ini : “Sayang, semua akan baik-baik saja. Tenanglah, aku bersamamu selalu,” sembari diimbuhi pelukan hangat.

Untuk kalian berdua.

Tentunya dalam setiap hubungan, pertentangan itu pasti akan selalu saja ada. Entah itu dari perbedaan pendapat atau barangkali karena ada orang ketiga dalam hubungan kalian. Ku harap kalian berdua tetap patuh pada janji-janji setia kalian.

Sebagai penutup, aku ingin mengutip sebuah kalimat bijak dari seorang penulis yang menjadi idola dari salah satu diantara kalian.

Kurang lebih begini bunyi kalimat bijak itu :

“Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu itu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.”

—Dee ( Filosofi Kopi hal 31)

Aku yakin, jika kalian mematuhi kalimat ini, kebahagiaan kalian akan menjadi sebuah keniscayaan.

Semoga kalian berdua bahagia selalu.

One thought on “Sepasang Kunang-Kunang

  1. Bagus mat, bagus banget. #ngelap air mata pake baju yoga–dipelototin orangnya.

    Sebuah tulisan yang bisa menyulap sebuah kisah sederhana jadi sebegini romantis, manis di sana-sini. Disampaikan dengan indah, puitis. Diksinya sastra banget, tapi tanpa terlalu banyak metafora yang mungkin bisa bikin tulisan manis ini jadi menjemukan.

    Pas. Mengajari tapi tidak menggurui. #copas komen dari novelnya Tere Liye.

    A.n yoga aku mengucapkan terima kasih karena … usut punya usut pulsa modemnya lupa diisi #dipelototin yoga untuk yg kedua kalinya.

    Ya sudah, sebelum tulisan ini kepanjangan dan malah jadi cerpen, sekian dulu ya. Aku nggak mau dikasih predikat sebagai the most bawel commentator in this blog ever.😛

    Semoga sahabatnya yoga juga bahagia selalu.

    Kutunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s