Akulah Api, kamulah hujan [ cerpen ]

Akulah Api, kamulah hujan

Siang  itu semilir angin bergerak lebih pelan, padahal diatas sana langit sudah kelam. Barangkali, angin hanya ingin menggiring hujan dengan perlahan. Atau barangkali, angin hanya ingin mencoba memahami seorang gadis cantik itu, yang terbaring di rumah sakit tengah kota itu. Terbaring pucat dengan selang infus di pergelangan tangannya. Dua hari yang lalu, ada sebuah mobil yang melaju kencang di depannya. Dia tertabrak dan mengeluarkan banyak darah. Mobil yang menabraknya lari entah kemana. Entah juga, tabrakan itu tak sengaja atau di sengaja.

            Gadis itu banyak mengeluarkan darah. Darahnya golongan AB+. Darah yang langka dan kebetulan stok darah golongan AB+ di rumah itu sedang kosong.

            Kini gadis itu koma, semoga saja belum sampai titik. Karena jika sudah mencapai titik, orang-orang terdekatnya akan menangisinya, tak terkecuali hujan.

***

Ryan. Lelaki itu beranjak dari kursinya, ia ingin menemui salah satu kliennya di salah satu kafe di Jakarta. Ryan bekerja di organisasi yang bergerak di bidang jasa pencarian orang hilang. Banyak kasus yang ia tangani. Mulai dari kasus ringan sampai yang berat. Dan baru-baru ini dia baru saja di sibukkan dengan kasus yang cukup berat. Kasus ini melibatkan salah satu petinggi ABRI.

            Jalanan lancar, tak ada kemacetan yang menjenuhkan. Sesampainya disana, kliennya rupanya belum datang. Sembari menunggu, Ryan membuka pesan masuk di hpnya. Benar, ada pesan penting yang masuk.

            yan, 2 hari yang lalu Rini kecelakaan, dia sekarang koma. Dia banyak kehabisan darah. Tolong carikan dari golongan AB+

Seketika darahnya tersirap sampai ke ubun-ubun. Dia lekas pergi dari tempat itu dan segera mencari informasi ke temannya, keluarganya, atau siapapun yang bergolongan darah AB+. Ia tak ingin Rini—gadis itu— pergi untuk selamanya. Jika itu terjadi, barangkali ia akan memeluk tangisnya—untuk selamanya.

***

Ratusan undangan sudah siap disebarkan pagi itu. Undangan itu berbentuk sederhana. Hanya ada foto prewedding Ryan & Rini dan sebait puisi “Aku Ingin” karangan Sapardi Djoko Damono. Di foto itu mereka saling memegang tangan, dengan background masing-masing yang berbeda. Ryan dengan background api yang mengobar, dan Rini dengan background tempat mendung yang hujan. Itulah mereka. Ryan adalah perlambang api. Rini adalah perlambang hujan. Mereka saling mengisi.

Sejak kecil, Ryan memang gemar sekali bermain api. Baginya, api adalah perwujudan dari wataknya. Oleh sebab itu, dia suka sekali dengan hal-hal yang menantang keberaniannya. Dan oleh sebab itu juga buku favoritnya adalah buku kumpulan puisi Ayat-Ayat Api karangan Sapardi Djoko Damono.

Rini, gadis pemurung yang berteman dengan hujan. Ayah ibunya berpisah semenjak dia belum mampu memahami arti dari sebuah perceraian. Karena itu, baginya, hujan adalah perwujudan dari wataknya. Dan karena itu juga, buku favoritnya adalah buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono.

Ryan bertemu dengan Rini pada suatu pagi di perpustakaan kecil kampusnya. Saat itu Rini sedang khusyuk menikmati buku kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” karangan Sapardi Djoko Damono,.

“Maaf mbak, boleh pinjem bolpointnya ?”

Rini dengan wajah dingin menyodorkan bolpointnya.

“Hmm.. kalau boleh tahu, nama mbak siapa ? Saya Ryan.” Ryan menyodorkan tangannya untuk bersalaman sampai-sampai ia lupa tujuan awalnya meminjam bolpoint.

“Rini.” Jawab gadis itu ketus.

Beberapa jenak kemudian, entah bagaimana dan siapa yang memulai, obrolan mereka menjadi hangat. Gadis itu tiba-tiba menanggalkan sifat dinginnya. Selanjutnya, mereka saling bertukar nomor telepon.

            Dari sana mereka tahu, dan sadar. Ada yang semi di dada mereka berdua. Entah apa itu namanya.

***

Di sudut kota itu. Pria itu, Ryan masih saja memeluk tangisnya. Hujan seolah-olah menjadi kutukan baginya. Karena hujan adalah perlambang dari setiap kenangan-kenangan seseorang. Kenangan-kenangan yang tak ingin ia ingat lagi. Kenangan-kenangan yang telah terkubur bersama tubuh yang sudah tak bernyawa. Tubuh yang akrab dengan hujan.

“Rin, kau tahu, aku memang api, dan kau tahu, seperti katamu hujan selalu mengalahkan api. Dan kini aku memang kalah. “

Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, dan sesekali memainkan jentik apinya. Sudah empat hari setelah kematian Rini, ia menjadi seperti itu. Ia memeluk tangisnya seerat mungkin. Sangat erat. Itu membuat tubuhnya semakin tirus. Semakin tirus.

***

“Akan ku balaskan dendammu Rin, orang itu harus merasakan nikmatnya terbakar api.”

Ryan, langsung bangkit dari kursinya dan pergi menggengam kunci mobil dan rokok terselip di mulutnya. Ia menyalakan mesin mobil dan pergi. Tak lama kemudian, ia berhenti di sebuah pom bensin.

“Mbak, sepuluh liter dalam jurigen ya.”

***

Mobil Ryan berhenti di sebuah rumah megah yang terlihat seperti rumah seorang pejabat.

“Rin, kini, orang yang telah menabrakmu itu akan merasakan bagaimana nikmatnya di bakar api kesedihan.”

Ryan memencet bel dirumah itu. Dan sangat kebetulah sekali, yang keluar dari pintu rumah adalah tuan rumahnya langsung. Tuan rumah sekaligus pelaku penabrakan itu. Orang menjadi penyebab Rini kehabisan darah.

“Halo pak, apa kabar ? Apakah bapak sebelumnya sudah pernah merasakan nikmatnya terbakar api ?”

Belum sampai si Tuan itu menjawab, Ryan sudah menyiramnya dengan bensin yang tadi ia beli.

“Hey, apa-apaan ini. Apa yang akan kamu lakukan dengan ini ?”

Ryan langsung menyulut api rokoknya. Menjetikkan bara apinya. Dan seketika, semuanya terbakar. Tuan rumah dan yang ada di dekatnya. Ia berteriak-teriak. Berlari limbung masuk rumah untuk mencari air atau pemadam api. Tapi sayang, ia sudah papah. Dia jatuh, dan merenggang nyawa.

            Ryan tertawa kecil.

“Akhirnya,”

Sambil menghisap rokoknya, ia menyiram dirinya sendiri dengan sisa bensin tadi, Ryan terbakar. Ryan tertawa lagi.

“Rin, kini aku akan menyusulmu. Hahaha.”

Ryan terbakar sampai menjadi abu. Dan hujan pun turun seketika.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s