keringat prestasi Evan Dimas dkk

Bangsa kita sedang berbangga. Beberapa waktu yang lalu timnas U-19 telah menjadi juara di final AFF U19, dan ini baru pertama kalinya setelah 20 tahun lebih menunggu kemenangan itu. Tentunya ini menjadi sebuah pertanda bahwa masa depan olahraga kita masih terang-benderang. Masih banyak peluang yang bisa dimasuki.

                Saya sendiri juga ikut merasakan suasana kemenangan timnas U-19 itu meskipun saya tidak ikut bermain😀, meskipun saya tidak ikut menonton langsung di stadion deltras sidoarjo. Teman-teman saya banyak yang ikut menonton langsung di stadion karena memang stadion itu jaraknya tidak terlalu jauh  dengan rumah saya yang di sidoarjo. Saya sendiri misalkan sedang ada di rumah sidoarjo, mungkin saya bisa menonton pertandingan bersejarah itu dengan teman-teman sma saya😦. Tapi, sayangnya saya sedang ada di subang. Tak apalah, yang penting saya masih bisa menonton pertandingan itu lewat layar televisi.

                Dan dalam hati saya walaupun tidak bisa menonton pertandingan itu secara langsung, saya ingin sekali bertemu dan bersalaman dengan Evan Dimas dkk, saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada mereka. Saya bayangkan itu. Keajaiban Law of Attraction pun terjadi. Hari rabu kemarin saya dan kawan-kawan fakultas saya mendapatkan kesempatan menonton wawacara langsung  bersama Evan Dimas dkk di acara Hitam Putih. Yeah, keinginan saya itu benar-benar terwujud.

Selalu😦 saya tak tampak fotogenic

                 Sewaktu mendengar pengakuan dari Evan Dimas dkk saya gembira sekaligus terharu. Dan yang paling bisa menyentak nurani saya adalah pengakuan Evan Dimas─ sang kapten U19. Evan Dimas yang ayahnya berprofesi sebagai satpam perumahan dan ibunya yang pernah berkerja sebagai pembantu rumah tangga, mengakui kalau ibunya sempat kesulitan ketika Evan ingin sepatu bola untuk latihan. Ibunya pun akhirnya bisa membelikan Evan sepatu itu. Itu pun dengan harga yang sangat murah untuk ukuran sepatu bola, sekitar Rp 40rb, dan lewat sepatu itulah Evan menjadi seperti sekarang ini. Saya terharu, saya tersentak. Di saat apa-apa yang saya minta kepada orang tua selalu saya dapatkan saya lupa : apa yang sudah saya berikan kepada orang tua saya dan bangsa ini ?

Jika Evan dengan keringat bercucuran bisa memberikan prestasi, lalu saya ?

Itu cukup menjadi tamparan sekaligus motivasi untuk saya.

Lewat pengakuan Evan, mungkin Tuhan sedang mengingatkan saya untuk terus bersyukur dan jangan banyak mengeluh. Barangkali itu yang harus saya camkan selalu dalam hati saya.

 Dan semoga, cucuran keringat prestasi Evan bisa menular kepada kita semua─pemuda-pemudi Indonesia. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s