Waktu dan Maut [ tafsir puisi ]

Hemat

 

dari hari ke hari

bunuh diri pelan-pelan

 

dari tahun ke tahun

bertimbun luka di badan

 

maut menabungKu

segobang-segobang

 

1977

 

1.

 

Begitulah gambaran waktu dalam sajak berjudul Hemat karya Sutardji Calzoum Bachri. Waktu bisa menjelma luka, dan terkadang waktu juga bisa menjelma duka. Waktu bisa menjadi kawan yang ramah, tetapi lain waktu dia juga bisa menjadi musuh. Setiap orang yang kurang piawai mengatur waktu / menjadikannya sahabat pada akhirnya akan merugi. Tanpa disadari, maut sudah menatapnya bulat-bulat.

 

2.

“dari hari ke hari / bunuh diri pelan-pelan” kata Sutardji. Dalam baris sajak itu kita tahu, waktu bersahabat dengan kematian. Mereka saling bertautan. Dan jika saja kita masih acuh, masih larut dalam keriuhan yang kosong, mereka bisa memasung kita setiap saat.

 

3.

Dalam kebosanan pun kita harus tetap waspada. Bila waktu dan maut berkerjasama, kita hanyalah debu yang diterpa angin pagi. Kita agaknya harus bersahabat dengan waktu, agar kelak, maut menjemput kita dengan cara yang bijak. Dengan senyum yang hangat. Itulah harapan kita semua.

 

One thought on “Waktu dan Maut [ tafsir puisi ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s