Catatan Kecil Perihal UU Desa

Bersama Budiman Sudjatmiko dll ( dan selalu, foto saya tak fotogenic )

 

Sabtu, 11 Januari 2014

Hari sabtu adalah hari suci untuk para pemalas sedunia  ̶  termasuk saya. Tetapi ada yang lain di hari sabtu kemarin, saya tak menghabiskan waktu luang saya untuk bermalas-malasan di kasur saja, saya bosan. Akhirnya saya dipaksa untuk mencari kegiatan lain, dan untunglah seorang kawan saya mengajak saya ke sebuah acara menarik di aula pemda Kab. Subang.

                “Ini acara sosialisasi Undang-Undang desa bro. Yang pembicaranya Budiman Sudjatmiko.” Kata teman saya itu. Dan jleeeeeb…. saya girang bukan kepalang. Nama Budiman Sudjatmiko adalah nama yang akhir-akhir ini bergumul dalam benak saya. Dia adalah Anggota DPR RI yang baru saja menelurkan sebuah novel berjudul “Anak-Anak Revolusi”. Novel ini sedang ramai di bicarakan orang di social media, inilah yang membuat saya penasaran. Dan tentu saja saya dengan senang hati menerima ajakan teman saya itu. Walaupun acara ini sarat akan nuansa politik, menjelang pemilu 2014, saya mau saja, toh saya hanya ingin tahu Budiman Sudjatmiko saja. Si Penulis novel itu. Terlepas dari sosoknya sebagai calon legislatif 2014.

                Acara ini dihadiri oleh seluruh kepala desa & kepala kecamatan Subang. Rupanya, bapak-bapak dan ibu-ibu penjabat ini kalau dikumpulkan dalam satu tempat juga sama gaduhnya dengan kami para mahasiswa/i.

                Acara di mulai. Bupati memberi sambutan. Bapak ini memberi sambutan. Bapak itu memberi sambutan. Dan saya bosan, inilah bagian basa-basi yang sering sering membuat saya bosan. Saya hanya menunggu pak Budiman menjelaskan, tak pentin siapa yang memberi sambutan. Saya juga ingin tahu apa sih sebenarnya konten dari Undang-Undang desa itu.

                Dan tibalah waktunya pak Budiman Sudjatmiko mempresentasikan apa itu Undang-Undang Desa. Pak Budiman pertama-tama menunjukkan beberapa slide foto-foto desa di negara Cina yang berhasil mengelola desanya menjadi desa yang gemerlap. Kami semua tercengang melihat foto-foto itu. Kami membayangkan desa-desa di Subang bisa seindah itu. Desa dengan rumah-rumah yang tertata rapi. Desa dengan kantor kelurahan yang lebih pantas disebut sebagai hotel berbintang 5. Desa dengan infrastruktur yang lengkap dan megah. Ah, indah sekali.

                “Ini bukan mimpi!” kata pak Budiman, “suatu saat, ketika Undang-Undang desa ini terlaksana, desa-desa di Subang juga bisa seperti ini, bapak-bapak ibu-ibu semuanya. Dengan Undang-Undang ini, nantinya bapak-ibu semuanya bisa mendapatkan fasilitas dana untuk mengelola desa.”

                Dari penjelasan pak Budiman ini saya akhirnya bisa menangkap beberapa isi penting UU Desa ini. Jadi ini semacam otonomi desa, desentralisasi sampai kedesa-desa. Wah, bagus juga ya UU ini. Pasti kalau UU berjalan dengan baik, seluruh desa di Indonesia bisa menjadi desa-desa yang indah seperti di Cina itu. Keren.

                Tiba-tiba teman saya, seorang peneliti sosial dari LIPI Subang, nyeletuk dari belakang. “Hmmm.. UU ini emang sih bagus kalau di lihat dari tujuannya. Tapi aku agak pesimistik,” katanya dengan wajah yang agak lesu, “karena kan konsep UU di adopsi dari Cina. Kita semua tahu Cina itu negara komunis, beda sama Indonesia yang feodal. Kalau di Cina, koruptor dan para pembangkang itu langsung ditembak mati disana mah. Kalau di Indonesia?

                “Kalau indonesia bisa sukses menjalankan UU Desa ini, Indonesia bisa maju. Tapi sebaliknya, kalau UU Desa ini gagal diterapkan. Negara kita bisa bangkrut bro!”

Saya langsung terdiam, mencoba merenungi pendapat dari teman saya itu. Hmmm kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga omongan kawan saya ini. Cina kan memang negara komunis, sedangkan kita masih jadi negara yang feodal. Dimana slogan asal bapak senang itu masih kental. Lalu apakah untuk menerapkan UU ini kita juga harus menerapkan hukuman mati untuk para koruptor?

 Ngeri juga soalnya kalau disuruh membayangkan korupsi besar-besaran terjadi sampai ke desa-desa. Ah, semoga saja itu tidak terjadi. Saya yakin UU Desa ini bukan UU mentahan yang dibuat tanpa persiapan matang. Saya yakin pak Budiman dkk sudah  memperhitungkan pahit manisnya.

Saya yakin, Indonesia bisa menjadi bagsa dengan mental unggulan. Dan pada akhirnya kita tidak perlu menjadi negara komunis untuk menjadi bangsa bermental unggul. Saya yakin bangsa Indonesia bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s