Baik buruknya sebuah acara dan buku motivasi

“Kata-kata memang ampuh. Tapi juga penuh racun reduksi. Apalagi jika dipakai untuk mencecoki kepala orang, menjadi petuah moral yang gampang disebar.”

—Phutut EA ( dalam buku Makelar Politik hal. 100 )

 

Dalam sebuah rapat yang saya hadiri, ada seorang teman yang begitu menggebu-gebu ketika menyampaikan pendapatnya. Saya heran. Padahal masalah yang dibicarakan dalam rapat itu bukanlah masalah sederhana yang dengan mudahnya bisa diselesaikan dengan wejangan-wejangan dari om Mario Teguh. Saya heran. Orang ini seakan-akan tak bisa berpikir dengan logis ketika menguraikan masalah yang didiskusikan ini. Dia begitu gegabah ketika memberikan solusi. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Beberapa hari lagi akan digelar sebuah acara seminar tentang kepemimpinan dalam rangka menyambut pemilu. Namun, ada beberapa kekurangan dalam hal persiapan. Pertama, adalah pembicara. Pembicara akan di hadirkan dalam acara seminar ini sesungguhnya bukanlah orang yang pas. Untuk sekelas seminar nasional dia masih belum memenuhi kriteria. Dan salah satu diantara mereka adalah dosen kami sendiri. Tentu saja anda bisa baynagkan, bagaimana rasanya, tentu saja takkan jauh berbeda dengan kuliah di kelas. Kedua, harga tiket seminar yang kurang bersahabt. Harga tiket seminar sebesar 100 ribu untuk kalangan mahasiswa di Subang—yang notabene adalah daerah pinggiran—bukan harga yang murah. Mereka akan merasa terbebani dengan harga itu. Ketiga, tempat acara seminar. Tempatnya bukan tempat yang mudah dijangkau. Jauh dari kampus. Bagi mereka yang tak memiliki kendaraan pribadi, tentu ini akan merepotkan mereka.

            Dari beberapa alasan tersebut, saya memberikan usul yang menurut saya lebih logis dan lebih aman. Sebaiknya waktunya diundur saja. Lalu kita rencanakan lagi dengan baik. Karena tahun lalu saya pernah menjadi ketua pelaksana seminar seperti itu. Tetapi usulan saya ditolak. Tak masalah, toh ini bukan tanggung jawab saya. Hanya saja yang membuat saya agak risih adalah : orang-orang yang menggampangkan masalah. Orang-orang yang memberi solusi dengan petuah-petuah bijak yang belum tentu ampuh untuk menyelesaikan masalah serumit ini.

            Saya bukannya pesimis ketika menanggapi teman saya yang seperti itu. Saya hanya mengajak mereka berpikir dengan logis dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Sayangnya, teman saya ini sudah terbuai dengan acara-acara motivasi. Saya sedih. Rupanya masih ada saja orang yang menjadi korbannya.

            Sebenarnya, dalam hal ini saya tak pernah menyalahkan mereka yang gemar membaca buku-buku motivasi dan mengikuti acara-acara motivasi ( yang terkadang harga tiketnya sering membuat dahi saya berkerut). Saya juga dulu adalah orang yang gemar membaca buku-buku semacam itu dan sering juga ikut-ikut seminar motivasi. Tetapi itu dulu, ketika memang saya membutuhkannya. Saat itu memang saya sedang galau berat dan butuh asupan motivasi. Dan ketika semangat saya sudah pulih kembali, saya berhenti menyerap petuah-petuah motivasi itu. Akhirnya, sekarang saya malah gemar membaca buku-buku sastra. Karena menurut saya itu lebih mendidik dan memperhalus perasaan. Jadi, sebaiknya bacalah buku motivasi itu dengan takaran yang wajar-wajar saja. Dan jangan terlalu mudah termakan petuah-petuah bijak yang melenakan. Buku motivasi memang punya efek positif, tetapi disatu sisi, buku motivasi juga mempunyai efek negatif. Oleh karena itu, bacalah buku motivasi diwaktu yang tepat, bukan disaat rapat atau diskusi.

4 thoughts on “Baik buruknya sebuah acara dan buku motivasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s