Golput dan Caleg

Pada tanggal 9 April kemarin saya kecewa. Saya adalah salah satu orang tak mendapat hak pilih hanya karena alasan sederhana : masalah administratif. Dan rupanya, apa yang saya alami ini juga dialami oleh banyak orang di tempat lain. Jadi jangan salahkan kami jika harus golput. Toh ini bukan salah kami, ini salah orang-orang yang gemar membuat urusan yang mudah menjadi rumit. Tetapi untungnya saya begitu maklum dengan masalah seperti ini. Saya sudah sering mengalaminya, terganjal masalah hanya karena persyaratan administratif yang rumit.
Tetapi kemudian, rasa kecewa saya itu menjelma rasa lega. Lega dari rasa bersalah. Tahu kenapa? Iya, setidaknya saya tak merasa berdosa/bersalah karena telah membuat orang lain menjadi gila. Sehari setelah pengumuman hasil hitung cepat, banyak sekali caleg yang tiba-tiba terserang stress mendadak. Jika saya kemarin ikut memilih, barangkali saya malah akan dihantui rasa bersalah karena tak memilih Caleg A. Yang akhirnya jadi stress karena suaranya kecil, karena saya tak memilih dia.
Sebenarnya, saya juga kasian dengan caleg-caleg semacam ini. Mereka sepertinya sudah salah niat sejak di awal pencalonannya. Mereka sepertinya dari awal menganggap ajang pencalegan ini sebagai kompetisi bisnis. Orientasinya untung-rugi. Lihat saja dari jumlah modal yang mereka kucurkan untuk biaya kampanye, menurut data, rata-rata dana yang dikeluarkan caleg itu antara 200juta – 1 milyar. Jumlah uang yang tidak sedikit. Jika saya punya uang sebanyak itu, daripada untuk modal caleg, saya justru akan membuat perpustakaan atau tempat penyewaan buku, atau bahkan membuat kafe hehe. Lalu apa yang mereka harapkan misalkan terpilih nanti?
Tentu saja balik modal, bahkan mungkin untung.

Ya, jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan oleh para caleg ini, wajar saja jika mereka kemudian mendadak stress ketika mengetahui kenyataan bahwa mereka memang kalah, dan uang yang mereka kucurkan sia-sia—pada akhirnya baliho-baliho mereka hanya jadi terpal kandang ayam, dan kaos mereka hanya untuk seragam para kuli bangunan.
Misalkan saja mereka ini tidak nanggung, alias berpikirnya total : kalau mau kaya, mending sekalian jadi pengusaha. Jangan jadi anggota dewan.

Semoga lekas sembuh ya bapak/ibu caleg yang gagal. Ingat, kegagalan adalah sukses yang tertunda hehe. Salam super!

 

4 thoughts on “Golput dan Caleg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s