Ketika Long-Weekend

Ketika long-weekend tiba, jalan-jalan raya selalu dipenuhi kendaraan-kendaraan yang berjejal. Entah kenapa, membuat macet jalanan selalu menjadi ritual wajib ketika long-weekend. Padahal, pada mulanya orang-orang ini pergi berlibur untuk menghilangkan rasa penat, tetapi yang ada malah tertimbun kepenatan di dalam kemacetan. Jalan tol yang tadinya berfungsi sebagai jalan bebas hambatan, justru tiba-tiba menjadi jalan yang tersumbat kemacetan. Dan kemacetan itu, selalu terjadi di tempat-tempat yang itu-itu saja : Bandung, Puncak, dan tempat saya tinggal—Subang. Bahkan kemacetan yang terjadi di jalur pantura Subang, sudah berlangsung selama tiga hari dua malam. Sudah seperti pesta pernikahan saja. Bedanya, disini tak ada makanan prasmanan. Hehehe
Saya sendiri jika sudah begini juga malas pergi kemana-mana. Mending di rumah saja ( padahal sejatinya saya ini memang anak rumahan )

Masalah kemacetan ini memang sulit untuk diurai. Apalagi kemacetan di waktu long-weekend. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang ingin pergi berlibur ini sebagai penyebab kemacetan. Toh, mereka juga butuh hiburan setelah begitu sibuk bekerja.
Harus ada solusi untuk masalah ini. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik. Jika ini terus terjadi, berarti pengalaman bukanlah guru yang terbaik, atau mungkin kitalah murid yang kurang bisa menyerap pelajaran.
Lalu, kira-kira bagaimana caranya agar masalah kemacetan-kemacetan ketika long-weekend ini tidak terus-terusan terjadi?
Sempat terbersit dalam benak saya sebuah ide sederhana. Saya membayangkan, kira-kira bagaimana jika hari libur nasional itu tidak disamaratakan. Atau paling tidak, ada jadwal-jadwal khusus untuk jatah berlibur tiap orang, sehingga jumlah orang yang pergi berlibur tak terlalu banyak karena sudah diurai dengan jatah libur sesuai jadwal. Anda boleh setuju boleh tidak. Dan ide ini mungkin juga bisa diterapkan untuk kota-kota yang sering terserang wabah kemacetan.

Walaupun ide ini terkesan aneh dan sulit diterapkan, tetapi setidaknya ide ini bisa menjadi solusi sementara sembari menunggu pemerintah bisa membangun jalan-jalan yang bagus dan alat transportasi massal yang layak.
Ya, kurang lebih seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s