Desa Cikadu dan Luka lainnya : Sebuah Pengalaman KKN Seorang Pemuda Manja

Seperti halnya mahasiswa dikampus lain, di pertengahan bulan Agustus kemarin, saya juga mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa atau yang sering disingkat menjadi KKNM itu. Banyak sekali hikmah yang bisa saya pungut dari pengalaman selama kurang lebih sebulan mengikuti KKNM. Dari yang manis, hingga yang pahit. Dari yang sedih, hingga yang lucu. Semuanya terangkum dalam pengalaman menarik yang membuat saya terus berusaha menjadi pemuda yang tak lelah bersyukur.
Desa Cikadu adalah desa yang jaraknya tak terlalu jauh dari desa tempat saya tinggal bersama kakek, desa Cijambe. Kurang lebih jaraknya ada sekitar 8 kilometer. Tetapi, karena akses jalan yang tidak memadai, jarak itu menjadi semakin jauh rasanya. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan motor, malah bisa memakan hingga 1 jam. Atau bahkan 1,5 jam bagi mereka yang belum terbiasa mengendarai motor di jalan turunan yang berbatu terjal. Akses jalan yang parah ini sungguh sangat membuat saya kewalahan. Pertama, saya harus menyervis sepeda motor saya yang turun mesin dan menambal ban motor saya yang beberapa kali bocor karena jalan terjal. Kedua, setiap kali saya mendapatkan tugas untuk berbelanja telur ke pasar, jumlah telur yang dibeli dengan jumlah telur yang sampai di kontrakan dengan selamat selalu berbeda. Selalu ada saja telur yang pecah.
Selain jalan yang parah. Desa ini juga menyimpan beberapa masalah lain yang tak kalah menyusahkan.
Sinyal telepon seluler. Barangkali masalah yang ini adalah masalah saya sendiri hehe. Saya, yang seringkali dimanjakan dengan akses internet cepat dan sinyal kuat, merasa kurang nyaman ketika harus berdiam diri di tempat tanpa sinyal seperti desa Cikadu ini. Tetapi hikmahnya, saya bisa terbiasa dengan suasana hening tanpa telepon seluler. Momen ini menjadi pembelajar bagi saya bahwa terkadang, manusia juga harus diasingkan dari benda-benda elektronik seperti telepon seluler.
Masalah air bersih. Inilah masalah di desa ini yang menurut sangat vital. Karena pada dasarnya kita tahu, air adalah kebutuhan manusia yang tak bisa ditolak. Air untuk minum. Air untuk mandi. Air untuk mencuci piring dan pakaian. Semuanya butuh air. Sayangnya, di desa Cikadu ini, pasokan air bersih masih sangat minim. Air memang ada, tetapi tidak melimpah ruah. Selama saya disana, saya selalu dibuat bingung jika harus buang air besar atau mandi. Saya harus membiasakan diri untuk mengantri. Tetapi sebenarnya ada juga cara agar tidak mengantri ketika ingin bab atau mandi, yaitu dengan cara mandi bersama para lansia di tempat pemandian umum! Menantang bukan? Hehe
Kesehatan dan pendidikan. Dua masalah ini juga cukup memprihatinkan. Di bidang kesehatan, rupanya dinas kesehatan Kab. Subang sungguh lalai dalam memperhatikan kesehatan masyarakatnya. Bagaimana tidak, ketika di beberapa desa lainnya sudah tersedia bidan desa, mengapa di desa Cikadu belum ada bidan desa? Bahkan, sang lurah sudah berulang kali meminta dan merekomendasikan bidan desa untuk desa cikadu. Tetapi tetap saja masih belum ada. Apakah saking terisolirnya desa Cikadu, sehingga para bidan ( PNS yang harusnya rela mengabdi untuk masyarakat) ogah ditempatkan disana.
Ditambah lagi dengan kegiatan imunisasi anak yang tak terselenggara secara rutin. Akibatnya, yang saya lihat adalah: anak-anak desa Cikadu tinggi badannya tak setinggi anak-anak di desa lain. Saya tak tahu apakah ini ada hubungannya dengan imunisasi, tetapi saya rasa sepertinya memang ada hubungannya. Kesan itu bisa saya lihat dari penampilan fisik mereka. Saya melihat ada yang tak wajar dalam proses peertumbuhan mereka.

betapa layunya mereka :( kamu sudah makan nak?

betapa layunya mereka😦 kamu sudah makan nak?

Lalu yang terakhir adalah pendidikan. Ini juga memprihatinkan. Saya mendapatkan keluhan dari murid-murid SD disekitar kontrakan saya menginap, bahwa mereka kekurangan guru. Bahkan, guru bahasa inggris datangnya hanya 4 bulan sekali. Ini sangat memprihatinkan dan ironis sekali. Kita tahu, bahwa bahasa inggris kini termasuk salah satu pelajaran penting dalam kurikulum sekolah dan masuk dalam UASBN. Lantas, bagaimana jadinya ketika mereka mengerjakan soal bahasa inggris itu? Miris sekali bukan?
Tetapi, semoga kelas belajar bahasa inggris yang saya bentuk di desa itu, bisa menjadi kebiasaan mereka belajar bahasa inggris secara mandiri.
Setelah sebulan penuh menempuh kegiatan KKN, saya dan teman-teman akhirnya harus meninggalkan desa Cikadu itu. Ada momen-momen haru yang kami rasakan ketika harus meinggalkan tempat itu. Apalagi jika harus mengingat beberapa momen kebersamaan kami dengan warga sekitar.

teman-teman saya dan para warga setelah bermain volly

teman-teman saya dan para warga setelah bermain volly

malam perpisahan. penyerahan simbolik berupa buku bacaan

malam perpisahan. penyerahan simbolik berupa buku bacaan

Ketika saya berpamitan dengan warga, ada sebuah pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada warga sekitar, dan akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut saya:

“Pak, bapak kok betah sih tinggal di desa yang akses jalannya hancur begini?” Tanya saya penuh kewaspadaan.
“Nak, dimana-mana yang namanya kampung halaman itu selalu nyaman untuk ditempati.”
“Ah, masak cuma itu Pak?” Kata saya berkilah.
“Oh, iya, satu lagi yang membuat bapak nyaman tinggal disini. Disini jarang ada maling motor. Kalau ada pun, malingnya bakal ketangkap juga. Karena jalan yang rusak, maling motornya pasti kesusahan kalau mau kabur.”
“Hahahahaha. Bener juga Pak!”

Saya pun tertawa sembari berpikir merumuskan sebuah teori.
Jadi teorinya, kalau desa ingin aman, hancurkan saja jalannya!
Ah Cikadu, kau desa yang penuh luka. Dan aku, si Pemuda manja, hanya bisa mengeluhkanmu.
Semoga kelak, kau menjadi desa yang perkasa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s