Memulai menulis dengan menjadi Jurnalis

“Menulis itu mudah!” Pernyataan itu memang ada benarnya. Tetapi, ketika ditanya: bagaimana cara membuat tulisan yang baik dan menarik?” pernyataan semacam itu langsung bisa ditolak. Ya, memang membuat tulisan yang baik dan menarik bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kepekaan yang tinggi untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik dan menarik. Ketekunan, bisa dilatih dengan beberapa cara yang membantu kita untuk terbiasa menulis. Misalnya, menulis di blog atau membuat repotase/liputan/berita. Sedangkan kepekaan, bisa dilatih dengan kebiasaan membaca buku atau bacaan di internet. Dan kedua hal ini, harus dilatih secara konsisten.
Saya adalah seorang pemuda pemalas yang bermimpi menjadi seorang penulis yang baik. Tapi sayangnya, saya belum bisa melatih kebiasaan-kebiasaan itu. Saya selalu gagal ketika harus merawat kebiasaan menulis, blog saya hanya jadi sarang nyamuk dan laba-laba karena jarang di update. Dan saya lebih gemar membeli buku dari pada membacanya. Sungguh, bukan sosok yang patut untuk diteladani.
Karena saya menyadari kelemahan itu, akhirnya saya tahu bahwa terkadang kebiasaan itu harus dipaksakan! Itu jalan keluarnya. Dan beruntunglah saya dipertemukan dengan seorang jurnalis senior yang sudah malang-melintang di dunia pewartaan. Dialah Mang Annas (tentu saja bukan Annas Urbaningrum ya!), pemilik portal berita tintahijau.com―media online terbesar di Subang, yang bahkan traffic pembacanya hampir menyaingi portal berita online sekelas Okezone.com milik kokoh Harry Tanoe, Bos MNC Grup itu. Beliau telah berbaik hati memberikan saya peluang untuk belajar, belajar menulis berita di medianya. Saya sangat bersyukur telah diberikan kesempatan langka ini. Dan paling tidak, melalui media ini, barangkali kebiasaan menulis saya bisa terawat. Karena, setiap hari saya di tutut untuk berusaha menulis, setidaknya satu berita. Mang Annas pun secara tidak langsung juga telah menjadi seorang motivator bagi saya, pengarahannya barangkali lebih bernilai dari wejangan-wejangan/kutipan-kutipan dari seorang motivator-motivator itu. Mang Annas juga tak segan-segan menegur saya jika saya lalai dalam mencari data berita. Dengan cara seperti ini, otomatis Mang Annas melatih kepekaan saya juga. Ah, lengkap sudah: ketekunan dan kepekaan saya dilatih.

Ada salah satu perkataan Mang Annas yang saya ingat ketika kami kali pertama bertemu di kantor KPU Subang, kurang lebih intinya seperti ini:

“Mad, asal kamu tahu aja, semua penulis itu jurnalis. Karena, jurnalisme itu lebih dari sekedar usaha menulis. Lihat saja beberapa penulis yang memulai kariernya dari seorang jurnalis.”

Ya, perkataan itu langsung mengingatkan saya kepada beberapa penulis favorit saya:


Goenawan Mohamad. Seorang Jurnalis senior, Pendiri Majalah Tempo, dan seorang Penyair besar. Memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis di bawah arahan alm. Mahbub Djunaidi. Kolom Catatan Pinggirnya, yang tiap minggu menghiasi halaman belakang Majalah Tempo itu adalah perncapain tertingginya. Barangkali jika tak pernah terlatih menjalankan beberapa kerja repotase sebagai jurnalis, Catatan Pinggir takkan pernah ada.


Linda Christanty. Seorang Jurnalis yang pernah ditempatkan di daerah konflik Aceh dan seorang Cerpenis mashyur. Memulai karir menulisnya sebagai jurnalis repotase di Aceh. Saat itu Aceh adalah masih menjadi daerah konflik. Rasa tertekan dan menderita pernah ia alami disana. Dan mungkin itulah yang membuat cerpen-cerpennya dan esai-esainya begitu dalam dan detail.


AS Laksana. Seorang Jurnalis Majalah Detik yang juga Cerpenis parodi paling cemerlang saat ini. Gaya menulisnya yang puitis sekaligus kocak itu juga tak lepas dari kebiasaannya menulis feature-feature berita.


Ernest Hemingway. Seorang Jurnalis, Seorang Novelis aliran minimalis, dan Pemenang Hadiah Nobel. Memulai karir menulisnya sebagai Jurnalis juga. Pada awal-awal kemunculannya, gaya menulisnya yang dingin dan minimalis itu dicemooh oleh para kritikus sastra sebagai tulisan berita semata. Tetapi, belakangan , gaya menulisnya itu justru menjadikan ia sebagai pelopor genre minimalis.


Goerge Orwell. Seorang Jurnalis, Novelis, Esais, dan Pemenang Hadiah Nobel. Novelnya yang berjudul Animal Farm, adalah buah karya dari pengamatannya selama menjadi Jurnalis terhadap pemerintahan komunis.
Nama-nama di atas adalah nama-nama penulis besar yang memulai karirnya sebagai seorang Jurnalis. Jadi, jika anda ingin menjadi penulis yang hebat (atau paling tidak, menjadi penulis yang baik), sebaiknya anda memulai karir anda sebagai seorang jurnalis (meskipun tanpa dibayar sekalipun!). Saya rasa, teori ini akan jadi niscaya jika anda mencobanya.
Tak perlu khawatir mencari tempat untuk menjadi Jurnalis. Anda bisa memulainya dari tempat-tempat sekitar anda. Pasti ada. Jika anda mahasiswa, pasti kampus anda punya pers mahasiswa. Jika anda tinggal di daerah seperti saya, biasanya ada sebuah media berita online yang mau menerima anda sebagai Jurnalis jika anda rela tak di bayar (untuk awalnya).
Saya sarankan, bagi teman-teman yang tinggal di Subang, Purwakarta, dan Majalengka untuk bergabung di media berita online tintahijau.com, yang kelak, akan menjadi media sekelas Majalah Tempo dan Koran Kompas. 

7 thoughts on “Memulai menulis dengan menjadi Jurnalis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s