Jangan Bunuh Spongebob! Lelucon itu milik kami!

spongebob krusty crabs

Pada suatu malam, di sebuah stasiun TV swasta. Ada berita yang menayangkan sebuah keriuhan di gedung DPR. Tayangan ini begitu absurd, ada orang yang berteriak-teriak sembari mengacung-ngacungkan tangannya. Lalu, ada orang lainnya yang berebut menyela omongan. Dan, di tengah keriuhan itu, ada seorang dengan mata yang sendu sedang memegang palu. Setelah palu diketuk, seketika ruang gedung DPR itu menjelma jadi kebun binatang yang gaduh. Belakangan saya ketahui, rupanya tontonan tadi adalah suasana sidang rapat UU Pilkada. Kemudian saya hanya tersenyum miris, sembari sedikit tertawa.
Saya tidak akan membahas tentang bagaimana sikap saya atas putusan sidang DPR itu. Saya tak mau terjebak dalam pertanyaan: kamu setuju pilkada langsung atau tak langsung?
Saya bersikap seperti itu karena saya rasa sudah banyak argumentasi, komentar, dan bahkan caci maki yang sudah menjawab pertanyaan tadi. Itu semua bisa anda temukan pada laman facebook dan twitter anda.
Ketika orang-orang begitu terpaku perhatiannya pada UU Pilkada ini, perhatian saya justru tertuju pada sebuah wacana perihal (yang mungkin bagi sebagian orang dianggap tak penting) penghapusan film kartun Spongebob dari pertelevisian Indonesia oleh KPI.
Kemudian saya bertanya, “apa salah Spongebob?”
Spongebob hanyalah warga bikini bottom biasa. Dia hanyalah koki di krusty krab, yang kadang gajinya tak dibayar oleh Tuan Krabs. Apa salahnya?
Konon katanya, film kartun Spongebob ini tidak mendidik. Humor-humornya itu, dianggap terlampau vulgar dan berbau ke-amerika-amerikaan.
Konon katanya, tayangan ini dinilai memiliki dampak buruk bagi perkembangan fisik dan mental anak. Muatan tersebut diantaranya kekerasan fisik, penggunaan senjata tajam, lata-kata kasar, adegan berbahaya, muatan porno dan unsur mistis.
Lantas, apakabar sinetron-sinetron remaja yang sering menayangkan tokoh remaja yang hobi jajan di mall, pacaran mulu, dan ke sekolah pakai rok mini. Dengan jalan cerita yang itu-itu saja. Cinta melulu. Galau melulu. Menye-menye.
Barangkali ada yang dilupakan oleh mereka. Spongebob sesungguhnya bukanlah sekedar film kartun. Pencipta Spongebob adalah seorang ilmuwan kelautan yang jenius bernama Stephen Hillenburg. Imajinasi tentang biota laut dan semua karakter Spongebob itu berdasarkan pengalamannya selama belajar ilmu kelautan. Spongebob adalah film kartun yang diciptakan dari perpaduan antara seni, humor, ilmu pengetahuan dan filsafat.
Kita sering mendapatkan pesan-pesan bijak sederhana dari adegan antara Spongebob dan Patrick. Kita tentu ingat pada episode yang merubah Patrick jadi orang jenius karena otaknya tertukar dengan coral otak. Patrick yang tadinya cuma hobi makan dan dungu itu tiba-tiba jadi cerdas. Pada akhir cerita, Patrick merelakan kecerdasannya itu demi mempertahankan persahabatannya
Kita tentu ingat pada episode perang salju. Dimana pada saat itu, Squidward yang acuh dengan permainan itu akhirnya jadi gila. Episode itu secara tersirat membicarakan ideologi perang.
Lalu, secara tersirat pula, Spongebob juga mengajarkan nilai-nilai marxisme. Sampai ada sebuah artikel berbahasa inggris yang menyebut Spongebob sebagai seorang Marxis. Apakah karena ajaran marxisme ini KPI jadi ketakutan? Ah, saya kira terlalu lebay.

Spongebob versi Karl Marx

Spongebob versi Karl Marx

Akhirnya saya mohon pada KPI, tolong jangan bunuh Spongebob. Kami butuh lelucon yang segar. Meskipun episodenya sering diulang-ulang, tetapi leluconnya tetaplah segar, menurut saya.
Saya mohon, jangan rampas lelucon itu dari kami.
Kami perlu hiburan ketika orang-orang di gedung DPR itu sibuk bertengkar. Ketika orang-orang di facebook dan twitter itu sibuk mencaci-maki.
Kami butuh hiburan, Pak!

11 thoughts on “Jangan Bunuh Spongebob! Lelucon itu milik kami!

  1. Sinetron nggak mendidik, tayangan-tayangan yang harusnya dikonsumsi orang dewasa dibiarkan. Eh kartun yang bikin anak kecil terbahak-bahak dengan polos malah dihilangkan. Duh nasibbbb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s