Tampang adalah Nomor Kesekian

“Kamu tampan sekali, Mad!” kata teman saya. Namun sayang, kalimat itu terlontar ketika dia sedang melihat saya memakai helm dan masker. Saya pun maklum kenapa dia memuji saya seperti itu. Dan akhirnya saya beranggapan bahwa agar selalu terlihat tampan, saya harus memakai helm dan masker.
Tapi kini, semua itu tidak penting. Saya tak ingin terlihat tampan. Karena, akhir-akhir ini kebanyakan orang yang saya kagumi adalah mereka yang memiliki wajah biasa-biasa saja. Bahkan jauh sekali dari kata tampan.
Mereka semua adalah:

eka kurniawan

eka kurniawan

1. Eka Kurniawan. Dia adalah salah satu penulis favorit saya. Salah seorang penulis yang konon namanya layak disandingkan dengan nama besar Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, dia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor genre penulisan realis magis di Indonesia. Baru-baru ini dia menelurkan sebuah novel unik berjudul “Seperti Dendam, Rindu Juga Harus Dibayar Tuntas” yang menjadi banyak perbincangan di media sosial. Apakah Eka Kurniawan tampan? Hmmm. Barangkali jika disesuaikan dengan ukuran umum, Eka masih jauh dari kata tampan. Tapi, karena kemampuannya, karena karyanya itu, ia menjadi salah satu penulis paling terkemuka pada saat ini. Pada akhirnya aura ketampanan itu lahir dari kemampuan Eka mendedahkan kata-kata dalam karyanya. Dan karena kemampuannya itu, Eka mendapatkan seorang istri berparas cantik yang juga penulis, Ratih Kumala.

saut situmorang

saut situmorang

2. Saut Situmorang. Dia adalah salah satu penyair favorit saya. Puisinya yang paling saya sukai adalah puisinya yang berjudul “Perahu Mabuk”. Membaca puisi itu saya seperti merasakan sebuah sensasi yang sulit tergambarkan. Sederhana tapi begitu dalam. Namanya bahkan sering diadukan dengan nama besar Goenawan Mohamad―yang kebetulan penyair favorit saya juga. Apakah Saut Situmorang tampan? Hmmm. Saya rasa bila disesuaikan dengan ukuran orang Indonesia, Saut tampangnya masih jauh dari kata tampan. Wajahnya biasa-biasa saja. Tapi, penampilannya terkesan sangat urakan. Orang yang pertama kali melihatnya mungkin akan berpikir bahwa dia lebih seperti preman pasar daripada seorang penyair. Namun tak bisa dipungkiri, Saut terlihat tampan karena sajak-sajaknya. Bukan karena tampangnya. Itulah mungkin yang membuat Katrin Bandel―seorang kritikus sastra berwajah bule―mau menikah dengannya.

semua pasti tahu siapa ini

semua pasti tahu siapa ini

3. Bapak Presiden Jokowi. Saya rasa tokoh yang satu ini tak perlu dijelaskan lagi profilnya. Pasti kita semua tahu siapa beliau. Karena, beliau baru saja menjadi presiden ke-7 RI. Apakah Pak Jokowi tampan? Hmmm. Saya kira anda pasti punya ukuran sendiri soal ini. Kalau menurut saya sendiri, beliau adalah orang yang tampan untuk ukuran saya. Wajahnya teduh dan ramah. Tetapi pandangan ini akan langsung ditolak oleh para musuh politiknya. Kita tentu masih ingat pada masa kampanye pemilihan presiden kemarin. Wajah Pak Jokowi menjadi bulan-bulanan hinaan musuh-musuh politiknya. Kasihan sekali. Tapi justru itu yang membuat rakyat bersimpati padanya.
Jadi, akhirnya, pelajaran dari orang-orang saya kagumi tadi, tampang adalah nomor kesekian. Prestasi adalah yang utama!

One thought on “Tampang adalah Nomor Kesekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s