Selamat Datang di Rimba Kehidupan, Rakhmad!

Kira-kira sebulan sebelum blog ini mati suri, ayah saya menelpon. Beliau menanyakan kabar skripsi saya—pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang berada di ujung tanduk semester terakhir.
“Bagaimana skripsimu?”
“Alhamdulillah Yah, kurang dua puluh persen lagi,” tukas saya meyakinkan beliau. Meskipun saya sadar bahwa saya hanya berkilah, pada saat itu keadaannya terbalik: yang saya kerjakan barulah sekitar dua puluh persen.

“Baiklah. Lekaslah lulus. Dan dapatkanlah pekerjaan yang nyaman buatmu.”

“Ya, Yah.”

“Kalau bisa, bekerjalah di perusahaan BUMN, bila kamu memang tidak ingin mendaftar sebagai PNS. Setidaknya, bekerjalah di perusahaan yang tidak bisa bangkrut. Agar hidupmu tidak was-was.”

Setelah mendengar pesan itu, saya cegukan.

Saya belum tahu pasti mengapa beliau memberi anjuran seperti itu. Sampai ketika pulang ke rumah untuk menikmati jeda pasca sidang, saya tahu, ternyata ada dua orang tetangga saya yang baru saja terkena PHK. Berita itu saya dengar dari cerita Ibu saya. Beliau bercerita kalau istri-istri korban PHK ini curhat panjang lebar soal nasib keluarganya. Dan tentunya, juga meminta tolong kepada Ibu saya, jika ada lowongan pekerjaan untuk suami mereka.

Dua orang tetangga saya itu, sebut saja mereka Bapak Bunga dan Bapak Mawar. Bapak Bunga adalah seorang teknisi di sebuah perusahaan lampu hemat energi merk terkenal—saya tak menyebut apa merknya, yang pasti ini adalah merk lampu hemat energi yang umum kita kenal. Bapak Bunga sudah bertahun-tahun bekerja di sini. Dan saya tahu, dia adalah seorang pekerja keras. Dulu, ketika berangkat sekolah, saya selalu melihat laju motornya mendahului saya. Padahal, saya tahu kalau itu masih sangat pagi. Perkiraan saya, jarak kantornya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit saja. Namun mungkin dia berangkat pagi-pagi agar tidak terkena macet—sebuah antisipasi. Dan kebiasaan berangkat pagi itu ia lakukan setiap pagi.

Tetapi apa daya, perusahaan lampu itu sakit. Harus ada bagian yang diamputasi, artinya pemangkasan jumlah pegawai. Konon, sakitnya karena ulah dollar yang hobi loncat tinggi. Bapak Bunga termasuk pegawai yang terkena PHK.

Yang kedua adalah Bapak Mawar. Beliau juga adalah seorang teknisi seperti Bapak Bunga. Tapi bedanya, Bapak Mawar teknisi listrik di sebuah kapal ekspedisi. Beliau juga seorang pekerja keras. Rajin. Bahkan, di tengah kesibukannya, beliau masih bersedia menerima amanat sebagai ketua RT di kompleks perumahaan saya. Padahal, kita tahu, tidak ada tunjangan jabatan untuk ketua RT. Tapi, secara sadar dan sukarela beliau mau mengembannya. Namun, pada akhirnya nasibnya sama dengan Bapak Bunga. Beliau terkena PHK karena kapal ekspedisinya dilelang.

Sampai di sini, saya tahu kenapa Ayah saya memberikan saran agar saya menjadi PNS atau bekerja di perusahaan BUMN atau perusahaan yang nyaris mustahil bisa bangkrut. Ayah saya khawatir dengan masa depan saya. Beliau, sungguh berharap pada saya—anak lelaki satu-satunya dalam keluarga.

Ah, tapi maaf Ayah. Saya bukan ingin jadi anak durhaka atau tak patuh. Namun kenyataan tak semanis itu. Jangankan untuk bekerja di tempat sesuai saran Ayah itu, bekerja di perusahaan-perusahaan yang baru mulai merintis pun tak mudah. Seperti mencari jarum di bak pasir.

Hal ini saya alami sendiri. Seminggu setelah ujian sidang dan menyandang gelar pengangguran, saya lantas mulai melamar ke berbagai perusahaan. Berbekal CV, Ijazah, Sertifikat TOEFL, dan Sertifikat lainnya, saya selipkan pada setiap surat lamaran. Saya sebar. Mulai dari menaruh lamaran dengan mendatangi perusahaannya, sampai mengirimnya melalui alamat surel perusahaan tersebut.
Dan hasilnya ternyata masih nihil.

Tapi saya tak berputus asa. Seminggu setelahnya, ada sebuah acara bursa kerja yang cukup populer di Bandung. Bursa kerja yang diadakan oleh ITB Carrer Center. Saya ikut. Saya beli tiketnya. Saya mengentri. Dan oh, panjang sekali antriannya. Banyak sekali pencari kerja yang memadati Gedung Sabuga ITB saat itu. Banyaknya mungkin sebanyak helai rambut di kepala saya. Mereka juga sebagian besar mengapit gelar strata sarjana, bahkan tak sedikit pula yang sudah master dan punya pengalaman kerja yang mumpuni. Mereka semua berbondong-bondong menaruh CV dan berkas lainnya di kotak drop lamaran. Beberapa di antaranya, ada yang langsung melakukan walk-interview di stand perusahaan tersebut. Tak terkecuali saya. Saya coba dan langsung gagal ditempat. Saya gagal ketika ditanya: “What is the biggest achievement in your life?”

Saya lupa apa jawaban saya waktu itu. Saya pun menduga bahwa kegagalan itu bisa disebabkan oleh tiga faktor: 1. Bahasa inggris saya buruk 2. Jawaban saya kurang meyakinkan 3. Perpaduan antara faktor pertama dan faktor kedua. Lengkap sudah. Pada titik ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yang bakal saya simpan untuk bekal cerita anak cucu.
Sepulang dari acara bursa kerja tersebut, saya masih mampu melangkahkan kaki dengan mantap. Namun, beberapa langkah kemudian saya cegukan. Oh iya, saya lupa minum air sehabis makan batagor tadi. Saya minum, dengan bunyi berdeguk khas orang kampung. Setelahnya, saya sendawa. Pada titik saya tahu bahwa perjuangan masih panjang. Saya tahu bahwa mendapatkan pekerjaan yang baik itu tak mudah, bahwa impian-impian naif saya akhirnya berbenturan dengan kenyataan. Ah, tak apa. Saya tahu Tuhan takkan membiarkan umatnya menjadi durhaka pada orang tuannya😀

 

Selamat berjuang, selamat berbahagia.
Selamat datang di rimba kehidupan yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s